This is a must in a Wedding Party

This is a must in a Wedding Party

Alyce Paris lace prom dress
2.373.275 IDR – newyorkdress.com

Alexandre Birman ankle strap sandals
7.933.130 IDR – bergdorfgoodman.com

Lancaster mini bag
1.357.185 IDR – mood54.com

Pearl jewellery
238.660 IDR – popmap.com

Nyx makeup
146.665 IDR – selfridges.com

Praise My Life

Praise My Life

Christian Louboutin perfume fragrance
4.261.410 IDR – net-a-porter.com

Nail polish
199.275 IDR – sephora.com

WithChic v neck shirt
288.560 IDR – withchic.com

Dorothy Perkins jacket
783.815 IDR – dorothyperkins.com

Yves Saint Laurent liquid eyeliner
451.690 IDR – bloomingdales.com

Christian Dior mascara
378.620 IDR – shop.harpersbazaar.com

Charlotte Russe face makeup
225.845 IDR – charlotterusse.com

LE3NO summer shorts
207.115 IDR – le3no.com

Nyx makeup
145.910 IDR – selfridges.com

Nyx makeup
121.580 IDR – very.co.uk

Adidas running shoes
408.750 IDR – johnlewis.com

Blow-Stay-Happy

Blow-Stay-Happy

Floral dress
266.365 IDR – victoriaswing.com

MANGO destroyed jeans
1.065.865 IDR – mango.com

Nine west shoes
932.615 IDR – ninewest.com

ALDO cross body handbag
422.950 IDR – selfridges.com

Oscar de la Renta beads jewellery
5.996.250 IDR – intermixonline.com

Michael Kors iphone smartphone
422.440 IDR – harrods.com

Lip makeup
716.075 IDR – charlottetilbury.com

Bobbi Brown Cosmetics mascara
372.495 IDR – harrods.com

NYX face makeup
135.285 IDR – very.co.uk

Kate Spade eau de perfume
1.265.875 IDR – belk.com

Collata and Me

“When you know that stranger is not a new, but they whom you don’t know. Then you wanna know more”

“Salam buat Gerald.” Aku terkejut dia mengenal atasanku—Gerald—yang tak kalah seksi darinya. Aku tak menjawab dan hanya mengangguk, dan kulihat dia memutar langkahnya kembali kejalan dibelakang tadi yang sudah kita lewati. Ternyata dia benar-benar menemaniku berjalan kaki, dan benar ternyata rumahnya berada disekitar sini. Aku masih mengawasi punggungnya dari tempatku berdiri di depan bangunan gedung tempatku kerja. Dengan leluasa aku mengawasi punggungnya yang bidang dan sangat menggoda, sampai Rudan meneriaki namaku. Aku segera menolehkan kepalaku padanya.

“Zoo!” Iyah, dia teman dekatku. Memanggilku dengan Zoo—yes! Kebun binatang, aku tahu. Dan aku kembali mencari punggung yang kuintai tadi, aku kehilangan punggung itu, ah maksudnya sosok Nyx.

“Kamu nyariin siapa?” Rudan ikutan melolok arah mataku tadi. Aku menggeleng, dan menggandeng tangannya masuk gedung. Dia laki-laki manis yang menggemaskan, dia suka warna pink dan all girl stuffs, no no he is not a gay! He was married! It’s just because he has a daughter, and just so you know, he got lucky by accident. Kalian mengerti lah kecelakaan yang kumaksud kali ni. Umurnya berbeda satu tahun denganku, memasuki angka seperempat abad tahun ini. Dia menikah satu tahun lalu, disalah satu pulau kecil yang cantik dan jauh dari kota metropolitan ini, aku diundang. Yang hanya mengundang kerabat dekat dan teman kerja seadanya, karena perut mempelai perempuan sudah bersama dengan bayi empat bulan didalam rahimnya. Yah aku meringis.

“Kamu sudah tahu minggu depan ada pemotretan kan? Kita akan ke luar kota. Bernapas.” Yah, dia sangat menyukai jalan-jalan, karena dia akan membelikan sesuatu untuk anak dan istrinya. Huh, itu sedikit rempong terkadang. Dan dia bilang ke luar kota adalah bernapas, menurutku justru aku akan dicekek dan dibunuh perlahan. Capek setengah mati. Nyetir seorang diri. Rudan belum memiliki SIM. Aku masih punya otak, jadi tidak akan menyerahkan nyawaku padanya. Dan kantor tidak menyediakan supir. It is heaven.

“Iya, semalam aku ditelpon si cantik.” Kita kini sudah berada diruangan yang cukup dingin untuk siang yang mendung ini. Aku melepas gandenganku, Rudan duduk di bilik sampingku. Sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya, mengedit isi majalah ini dengan itu, desain halamannya. Ah aku juga tidak kalah sibuk. Semuanya rekan disini sedang sibuk dengan dirinya masing-masing. Aku melepas kamera dari gantungan leherku dan menancapkan usb dan langsung terhubung kedalam komputer didepanku. Selain foto-foto yang akan dimasukkan majalah besok, juga foto-foto yang akan menempel di dinding kamarku. Aku menyeringai gambar di layar komputer yang sedang kuperbesar.

Dan well wajahnya benar-benar tertutupi oleh korden apartement nya. WAIT! Cardigan putih terlihat menggantung di lemari disamping salah satu sisi korden yang terbuka. Oh Gawt, it looks like Nyx’s cardigan, for real ini mataku masih normal. Jangan-jangan laki-laki yang ada dalam foto ini adalah Nyx? Kenapa kemarin dia memakai topi yang menutupi seluruh kepalanya. Rambut coklat? Aku mulai menerawang lagi. . .lagi. . .dan lagi. . .ah aku tidak mengingat apa warna rambutnya. Pertama kali bertemu? Rambutnya hitam, kurasa. Aku tidak memperhatikan ada yang mencolok dengan rambutnya. Kemudian aku melihat gambar pertama yang kuambil, YES! Rambutnya hitam. Sepertinya laki-laki perut balokan itu mewarnai rambutnya di hari kedua aku melihat ke tempatnya. Apakah mungkin laki-laki perut balokan itu cowok metroseksusal yang cantik seperti Nyx? Mereka tampak sama meskipun aku yakin mereka berbeda. Aaaaaaaak aku bisa gila kali ini.

Suara Shayne Ward lembut mengalun memasuki telingaku, ponselku minta diangkat.

“Halo cantiiik. . .” Kalian tahu siapa yang kupanggil cantik? Gerald. Atasanku yang memang cantik dan seksi. Seluruh isi kantor ini juga memanggilnya begitu.

“Apa? Ke ruanganmu? Oke-oke, aku akan membawa foto-foto kemarin? Oke then~daaah” Telepon di seberang mati, aku memasukkan ponselku ke saku celana jeans ku dan memindahkan foto-foto perut balok ke dalam ‘privat’ data di komputerku. Kemudian membawa kamera dan beberapa lembar catatan keruangan atasanku yang cantik itu.

“Hi, Gerald. . .” Dia hari ini terlalu banyak memberi gel ke rambutnya, menghasilkan warna mengkilap dan kaku. Gaya rambut yang sangat mahal kurasa, cepak tertata aku menamainya. Rapi bersih, memperlihatkan jidat berkilaunya. Dia tersenyum di kursinya, aku menyukai senyumnya yang menenangkan jiwa, cantik. Aku menyukai yang cantik? Bukan, maksudku Gerald laki-laki yang terlalu tampan, jadi dia terlihat cantik. Aku menyukai Gerald? Iya. Sayang dia tidak menyukai perempuan. Ha ha ha, aku tertawa di dalam hatiku. Ah, Nyx. Jangan-jangan dia ada hubungan yang tidak sehat dengan Nyx.

“Oh ya, kamu dapat salam dari Nyx.”

“Nyx?” Dia seolah sedang menimbang-nimbang nama itu, apakah telinganya salah dengar atau aku yang salah bicara.

“Bagaimana kamu mengenalnya?” Raut wajah cantiknya berubah, menjadi sedikit ingin tahu dengan tetap manis dan tidak menakutkan.

“Ah tidak. Hanya bertemu dua kali.”

“Tidak biasanya dia mau bicara dengan orang asing. Bahkan titip salam padaku.” Aku ikut mengeryitkan alisku yang tertutupi oleh poniku.

“Oh ya, tentang pemotretan minggu depan, kamu pergi dengin Rudan seperti biasanya. Majalah minggu depan, khusus pemotretan itu. Oke, persiapkan materinya. Kamu edit data personal orang-orangnya. Oke. . .” Gerald memberiku setumpuk data orang yang tidak kukenal. Dan aku menyerahkan kameraku padanya. Dan kembali ke mejaku, meninggalkannya sendirian. Saat aku hendak membuka pintu, dia memanggil.

“Zoe, salam balik buat adikku. . .Nyx.” What? Mereka kakak beradik? Gila. Apa seisi rumahnya adalah manusia cantik? Aku tidak mengerti kenapa mereka begitu sama tetapi wajahnya sama sekali tidak mirip, ah senyum mereka sama. Sama-sama mematikan. Aku mengangguk menyanggupi.

 Apakah cerita selanjutnya hanya datar dan freak macam begini? Tunggu kelanjutannya.

Happy reading, yeorobeun~

Collata and Me

–When the stranger making you comfort and you think the stranger is good to know and good to share–

Zoe

Aku sudah duduk anggun di sofa panjang—sama seperti yang kududuki kemarin. Menunggu Collata Moccacinoku datang. Aku memenuhi permintaan laki-laki metroseksual kemarin? Tidak. Aku setiap hari akan menikmati lunchcollate only—disini. Menunggu pesananku datang aku melihat bangunan apartemen disamping kaca bening bangunan ini. Mulai fokus dan. . .

“Zoooyyyy. . .” Teriak seorang waiters cantik memakai topi kecil khas toko ini dengan membawa pesananku—lah yang membuyarkan fokusku karena harus menoleh pada sumber suara. Dia salah menyebut namaku. Aku menarik napas panjang pasrah. Kuacungkan tangan kananku, memberi sedikit senyuman.

Kusesap collata dinginku. Kenapa Collata? Apakah menunya hanya collata? Tidak. Hanya saja wipe-cream nya telah membiusku dari pertama aku meminumnya sekitar 13 tahun lalu—saat usiaku masih cocok buat ikutan casting iklan pasta gigi yang bisa dimakan milik anak-anak, kodomo. Saat itu usiaku masih 11 tahun, saat hari kelulusan SD, orangtuaku merayakannya dengan mengajakku meminum kopi.  Paps bilang, saat kamu meminum kopi, maka saat itulah kegagahan dalam dirimu bertambah. Mams juga bilang kalau minum kopi akan membuatmu tenang dari masalah yang sedang kamu hadapi. Mereka memesan Americano dan memesankanku Collata Orange. Nggak ada kopi-kopinya. Lalu buat apa aku diajak kemari kalau tidak minum kopi? pikirku saat itu. Ternyata mereka juga memesankanku cappuccino dingin. Aku meminum mereka bergantian, Collata Orange dan Cappucino, rasanya enak, apalagi wipe-cream yang lembab di mulut membuatku tergiur. Itulah saat pertama aku jatuh cinta pada Collata.

Aku mengarahkan kepalaku kesamping tanpa dikomando. Sial. Aku membelalakkan mataku dan meraih kamera D14ku yang tergantung di leherku, segera membidiknya, tapi sayang, tetap hanya perut balokan yang kudapati, celana jeans yang dikenakannya tak menarik perhatianku. Dan terkutuk dia memakai kacamata hitam dan penutup mulut. Kurasa dia sedang memandangiku? Meskipun dia memakai kacamata tapi gesture tubuhnya mengarah padaku. Dan dia mengarahkan dua jari kearahku dan kembali kematanya. Oh God, itu berarti dia mengawasiku. Kemudian dia berbalik badan. Kulihat rambut coklat tuanya sekilas sebelum tirainya tertutup.

‘Sepertinya aku sudah menjadi setengah gila kali ini. This bitch…ah’ Aku mengumpat dalam hatiku. Merutuk otakku yang tidak berhenti memikirkan pria penghuni apartemen sebelah. Gawt that too hawt I swear.

Saking geroginya dengan ancaman orang aneh tanpa baju barusan membuatku menguras isi dalam gelasku, dan aku menyandarkan tubuhku ke sofa, beberapa riset mengatakan, sandarkanlah tubuhmu pada benda padat berisi dan empuk agar membuat aliran darahmu menghangat dan meregang. Entah apa hubungannya beton yang padat dan pisang yang empuk. Oke lupakan.

“Hi Zoowee. . .” Terkutuk. Itu adalah lelaki metroseksual kemarin, apakah dia memang saltum atau bagaimana, dia memakai topi hiphop yang membungkus seluruh rambutnya. Waaaiiiit untuk apa dia memakai cardigan warna putih yang dikacing penuh hingga membentuk v-more-neck-hawtie? Slut. Aku menelan ludah. Tanpa dipersilahkan laki-laki itu duduk disampingku dengan jarak yang tidak bisa dikatakan jauh tapi dekat.banget.parfum lelakinya. Sial, dia memakai Drakkar Noir. Aroma lemon keluar dari setiap dia menggerakkan anggota tubuhnya. Aku menunduk, mencoba mengalihkan perhatianku. Terkutuknya, aku melihat dia memakai slippers butut warna hitam,tungguuuuuu, branded! Slippers brengsek. Milik Acorn. Lebih mirip sandal tidur yang empuk dan lembut. Jangan-jangan itu hadiah dari pacar laki-lakinya yang sangat kaya raya dan pemilik salah satu franchise terbesar di kota metropolitan ini?

Aku sangat sibuk memperhatikan laki-laki disampingku ini—sekarang loh ya. Bahkan kemarin aku sama sekali tak mencium aroma lemonnya yang segar dan menantang.

“Suka vanilla?” What? Jangan bilang dia mengendus aroma parfumku? Semoga dia tidak tahu aku mendapatkannya karena diskon 70% bulan lalu dan harus berebut dengan 30-an pelanggan. Milik Oriens. Fotografer majalah nggak begitu terkenal ini bukan anak konglomerat yang akan membelikan sepertiga gajinya hanya untuk kata parfum. Pfftt.

“Iya. Suka lemon?” Damn! Aku mengutuk lidahku yang tanpa pagar mengucapkan kecerobohannya. Aku memukul pelan kepalaku sendiri. Dia meringis, menahan tawa. Dia akan berpikir macam-macam bagaimana aku aroma tubuhnya lemon? Ingat Zowe, dia mungkin saja sudah punya pacar—yang laki-laki tentunya—yang lebih hawt dan hati-hati saat bicara.  

“Penciumanmu tajam juga. Nama Nyx. En Way Ex.” Dia mengayunkan tangannya yang harus kalian tahu, halus, mulus, dan well lentiknya naudzubillah. Aku merasa terhina.

“Zoe, zowee, Zet Ou I.” Aku kini telah berjabat tangan dengannya. Tangannya, astaga, super lembut seperti kulit bayi yang baru keluar dari rahim ibunya. Haluuusssssss.

“Aku nggak nyangka kamu bakal mengiakan basa-basiku kemarin.” Kini dia sudah memeluk collate pesanannya.

“Saya setiap hari datang kemari. . .” Kemudian ikut menyeruput collate ku hingga habis tak tersisa. Dia menoleh kearahku, dan (lagi) pandangan kita bertemu. Astagah, jangan biarkan aku jatuh cinta pada orang asing yang-Ouh-punya senyuman iblis seperti dia ehm Nyx.

“Kenapa pake saya?” Kini dia sudah duduk rileks dengan kaki dilipat dan tubuhnya disandarkan pada sofa dan mengarah kearahku, miring. Dengan membawa collatanya. Seumur-umur, ini adalah cara duduk paling seksi yang pernah kulihat. Menyilangkan kaki, bersandar pada sofa, melihat tepat kearah target, dan senyuman mesum dibibirnya.

Tunggu. . .aku pernah melihat senyuman itu, meski aku tak begitu yakin. . .perut balokan? Kenapa Nyx punya senyum seperti itu? Senyum mesum itu? Ah tentu saja nggak. Mungkin kebetulan sama.

Posisi kita sekarang sudah semacam pasangan kekasih, saling pandang berhadapan. Bedanya Nyx dengan tubuh rileks sedangkan aku tegang dan punggungku tegak tak bisa bersikap normal. ‘Oh ya? Dia tadi nanya apa?’ sadarku.

“Eh?” Dia tergelak mendapat reaksiku yang hanya ‘eh’. Aku juga bingung, kenapa tiba-tiba aku menajdi gagap dari kemarin setiap berada disampingnya. Freak to the max.

“Kamu lucu sekali ternyata.” Damn! Apa yang barusan dia bilang?

“Lucu? No! I’m not.” Mataku kini mengerjap-ngerjap seperti anak anjing yang minta ditimang.

“Kamu suka kemeja kotak-kotak?” Well harus kuakui, seisi lemariku hanya ada kemeja dan celana jeans. No more.

“Iya. Kamu suka skinny jeans?” Lagi-lagi aku ingin mencubit mulutku sendiri yang tak sopan sekali dari tadi.

“Aku akan mengganti selera celanaku jika kamu mau?” What? Jangan bilang dia sedang flirting? Oh my Allah. . .aku yang polos begini hanya memakai kemeja kotak-kotak—sama seperti yang kupakai kemarin—harus digoda oleh laki-laki metroseksual seperti itu. Apa salahku? Aku menyingkap rambut sebahuku kebelakang telingaku, sepertinya aku sedikit kepanasan. Poni di dahiku sedikit membantu pertahannku menghindarkan warna merah setiap kali aku merona di bagian jidat.

No no. I’ve never mean it, sure. I’m sorry.” Kini aku serius minta maaf padanya. Dan (lagi) dia tergelak lucu di sofanya—yang sama denganku. Menimbulkan gerakan pelan di sofa.

“Kamu benar-benar lucu. I just made a joke, and you act like I’ll kill you then. . . ” Apakah aku sebegitu seriusnya sampai menganggap candaannya sebegitunya?

“Ah benarkah? Maafkan saya.”

“Sudah berapa kali minta maaf? Please, kita baru bertemu dua kali. Gunakanlah aku biar aku merasa normal bicara dengan kenalan asing.” Kali ini aku inhale-exhale entah berapa kali dan memutuskan untuk memakai aku.

“Aku tidak terbiasa.” Aku melirik jam di tanganku dan aku harus segera pergi, urusan kantor sudah menungguku gaels.

“Aku harus kembali ke kantor. Thanks sudah menemani minum collate.” Dia terlihat terkejut dan kembali ke posisi duduk manusia normal dan mengangguk menyilahkan aku pergi. Wait wait sepertinya dia juga bangkit dari duduknya then follow me now.

Sekarang kita sudah berjalan beriringan. Dia mengimbangi langkahku yang lebih pendek dari langkah kaki jenjangnya. Slippersnya terlihat nggak nyantei berjajar dengan sepatu vansku yang oh tuhan belum kucuci selama 2 bulan. Gaya kita seratus delapan puluh derajat berbeda. Dia terlalu girly dan aku terlalu manly. Ah akhir jaman.

“Apakah aku boleh tahu kantormu?” dia bertanya seolah kita ada sesuatu.

“Ah kantorku dekat dari sini. Hanya beberapa ratus meter.”

“Apakah aku boleh mengantarmu?” Wot? Jangan-jangan, laki-laki ini adalah orang gila? Aku menggeleng.

“Serius. Kantorku dekat. Aku bisa jalan kaki.” Dia tertawa kecil.

“Iya aku tahu. Aku juga tidak membawa kendaraan. Aku akan menemanimu berjalan kaki.”

“Rumahmu dekat dari sini?” Dia hanya mengangguk tak menjawab dan terus berjalan disampingku. Menuruni beberapa anak tangga dari lantai tiga bangunan toko ini. Dan berjalan disepanjang trotoar dengan hanya diam.

“Apakah slippers tidurmu tidak apa-apa dibuat jalan jauh? Aku merasa kasihan dengan produk Ancorn itu?” Aku mencoba bertanya dengan pertanyaan manusia normal kali ini. Meski pertanyaan terakhir kuyakin dia juga terkejut.

“Kamu tahu ancorn?” Nah kan, dia tampak terkejut. Karena aku bahkan mengetahui brand sandalnya.

“Aku menyukai beberapa barang branded, but I’ve no more money to buy. Ha ha ha, just as cliché as it” Dia hanya mengangguk-angguk.

“Gayamu berpakaian sangat sederhana tapi pas di kamu.”

“Eh?” Aku memastikan pendengaranku tidak salah.

Dia bercerita banyak tentang beberapa brand terkenal. Ternyata dia bekerja sebagai designer. Pantas saja dandanannya nyentrik kayak gini, pikirku. Dan ternyata dia laki-laki straight dan bukan gay. Aku awalnya nggak ngerti kenapa dia bercerita itu kepadaku. Karena kebanyakan orang yang baru mengenalnya akan tertipu oleh kemolekan tubuhnya yang mirip seorang wanita dan dia akan disebut sebagai laki-laki metroseksual—begitupun aku menyebutnya. Kita banyak berbicara yang nggak penting sebenarnya tapi secara nggak langsung membuat kita rasanya sudah saling kenal lama. Dan harus berpisah jalan. Karena aku harus masuk ke kantorku dan dia mengangguk-angguk ternyata aku bekerja di penerbitan majalah yang nggak terlalu beken.

Seperti apakah kelanjutannya? Apakah Zoe mulai merasa bahwa orang asing metroseksual itu tak seburuk dan tak segila penculik yang akan mengorek organ tubuh–menjualnya–dan membuang jasadnya. Ternyata laki-laki metroseksual yang ditemuinya adalah laki-laki baik–dalam waktu dekat ini. Apakah besok-besok-dan besoknya lagi mereka akan kembali bertemu dan berbicara layaknya collata yang mencabik wipe-cream?