Selamat Tinggal Make-up

“Bel, loe ngapain aja di dalam? Tiket pesawat jam 9 woiii…” Teriakku dari luar kamar mendapati Belva (temanku) tak kunjung keluar.

Aku khawatir dia bunuh diri gara-gara aku mengajaknya melancong. Aku sudah semacam petugas ronda yang ketahuan ada maling lewat bawa TV tetangga. Bagaimana dia bisa berlama-lama di dalam sana sementara jam sudah menunjukkan pukul 08.00, dan jarak dari kosan ke bandara lebih dari setengah jam. Aku rasanya ingin mengunyah kusen pintu saking gemasnya menunggu. Aku mulai menghentak-hentak kaki tak sabaran.

“Ya Tuhaaan, loe gue itung sampe sepuluh gak keluar gue tinggal.” Ancamku yang mulai gusar bercampur cemas dengan tiket pesawat yang kemungkinan akan hangus.

Jeng jeng jeng. . .

Belva keluar dari kamar dengan dandanan lengkap dengan lipstik super merah dan membuat siapapun ingin mengginggitnya sebal. Aku tidak banyak komentar karena akan banyak waktu yang sia-sia (lagi) menunggunya mengganti jaket musim dingin yang super tebal. Aku agak bingung, kita mau ke Kalimantan, bukan ke kutub.

Untungnya aku sudah memasukkan perlengkapan pergi kita selama seminggu ke dalam bagasi mobil. Satu koper besar dan satu ransel ukuran sedang, tidak usah ditanya mana barangku dan barang temanku.

Halo, namaku Daf. Dan yang satu tadi, namanya Belva, teman yang kutemui dua tahun lalu dari komunitas menulis. Aku memintanya menginap di kosanku untuk alasan telat bangunnya. Aku akan pergi dengannya ke Kalimantan, sepekan. Libur kuliah tidak bisa membuatku diam seperti jamur di rumah. Walaupun tidak menutup kemungkinan aku akan menjadi jamur di tempat lain (jika penginapan terlalu mahal).

Dalam mobil. . . kami tidak berdua, ada Redi (Pacar Belva) yang kebetulan mau berkorban untuk pacarnya dan mengantar ke bandara, selaku supir.

“Red, kalo bisa loe ngebut ya. Tiket pesawat jam Sembilan.” Kataku dari jok belakang kemudi.

“Gila loe, jalanan udah mulai macet nih. Sinting ngapain aja kalian di dalem tadi?” Redi sudah mulai menginjak gas kuat-kuat.

“Pacar loe udah kayak mau dipinang aja dandannya seabad.” Belva menoleh ke arahku menyeringai.

Sesampainya di bandara, aku segera ke bagasi memakai ranselku dan menarik koper kesetanan dan berlari kedalam untuk check in. Dan dengan segala puji, meski diomelin mbak-mbaknya, kami diperbolehkan untuk check in.

Di dalam pesawat, aku rasanya sudah kehabisan nafas usai berlari menuju ke pesawat. Sementara Belva sibuk mengomeliku.

“Gue gak mau pergi sama loe lagi, aaargh gue kepanasan. Oh Gawd make-up gue berantakan.”

“Yaelah, pan bisa dibenerin. Kalo kepanasan jaket kutub loe bisa dilepas kok.” Aku terkikik di kursiku.

“Gue yakin Kalimantan lebih dingin dibandingin Jawa?”

“Oh ya?” Aku membiarkan imajinasinya semakin liar.

Destinasiku ke Kalimantan tidak lain untuk mengunjungi salah satu rumah baca di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Setali tiga uang, tidak lupa berlibur ke Kecamatan Maratua.

Perjalanan panjang dari Balikpapan ke Berau selama tiga hari cukup menguras tenaga dan waktu. Belva kehilangan tas make-up saat menunggu travel ke Berau, rasanya dia ingin menangis. Hidupnya akan merana tanpa tas itu. Meskipun aku sudah menenangkannya berulang kali, tetap saja dia merajuk untuk ke mall membeli peralatan make-up nya.

“Ya Tuhaaan…Loe cantik, Bel. Meski tanpa make-up sialan itu, loe tetep cantik. Percaya sama gue.”

“Gue bukan Loe, Daf. Gue merasa jelek kalau gapake make-up. Bibir gue gak seksi kalau gak pake lipstik. Alis gue gak bagus kalau gak pake pensil alis. Mata gue gak cantik kalo gak pake eyeliner.” Dia mulai menutup wajah dengan kedua tangannya. Geram mendapatinya seperti itu, aku menarik tangannya dan pergi ke toilet.

“Lihat wajah Loe di cermin, nyalain tuh keran air, cuci muka Loe. Gue ada disini Bel, kita teman. Gue temenan bukan karena make-up, catat itu!” Dia mulai menatapku terharu dan menangis pelan sambil bergumam ‘thanks’.

“Kalau gak mau ketinggalan travel, cepetan cuci mukanya.” Aku melenggang keluar kamar mandi dengan menyeret koper besarnya.

Sesampainya di Berau

Hamparan hijau, sejuk dan tidak pengap dengan asap kendaraan. Jangan harap kalian akan melihat lalu lalang kendaraan di jalan, bahkan angkutan umum saja nyaris tidak ditemukan. Berau adalah salah satu bagian Indonesia timur yang patut dibanggakan. Aku sudah jatuh cinta dengan ketenangan yang ada di Berau.

‘Berau—Kota dengan Seribu Ketenangannya’

“Gue menghirup aroma kebahagiaan disini.” Celetuk Belva yang sudah melupakan tragedi kehilangan tas make-up nya.

“Mm-hmm” Aku mengangguk, meng-iya-kan kalimat Belva.

Sebelum berangkat ke Berau, aku sudah menghubungi Kak Adi (pengurus rumah baca) yang bersedia menjemput kedatangan kami. Karena jarak yang harus ditempuh dari tempat penurunan travel ke lokasi rumah baca sekitar 30 kilo lagi.

Hatiku sudah berdebar menahan rindu ingin bertemu dengan adik-adik manis yang begitu bersemangat membaca—dengan bacaan seadanya. Aku sudah membayangkan senyum bahagia mereka. Benar saja mereka sudah berkumpul di depan rumah baca menantikan kehadiranku yang berjanji akan datang bulan ini.

“Haloooo cantik, halo ganteng……sini peluk kakak.” Aku bergegas turun dari mobil jemputan Kak Adi dan langsung menghambur ke meraka. Mereka berebut memelukku.

“Aaaaaa, kak Petaaaa,” Beberapa diantara mereka memanggilku ‘Kak Peta’.

“Kakak ka’ah naa.” Gadis lucu yang berbicara dengan bahasa lokal mengatakan aku gendutan.

Well-said, little girl’ Batinku ingin menjitaknya.

“Kak Daf, ada teman cantik. Kenalin lah ke kita.” Namanya Cilo, anak laki-laki yang suka menulis kalau ada yang membacakan cerita untuknya. Dia bersembunyi dibalik kaki besarku menatap malu-malu kearah Belva yang mematung—bingung harus bagaimana.

“Hai,” Belva melambaikan tangannya “Nama kakak Belva,” Anak-anak saling memandang bergantian dan kemudian menjabat tangan.

Kemudian mereka masuk ke rumah baca, Belva dan Aku mengambil koper dan ransel untuk menyusul mereka. Sementara Kak Adi sudah hilang sosoknya entah dimana.

“Daf, gue bahagia. Meski tanpa make-up, gue merasa begitu bahagia melihat senyum mereka.”

Buku di rumah baca yang bernama ‘Bahagia’ ini belum begitu banyak, namun sudah memadai untuk dijadikan akses pembelajaran yang sudah mendapat rekomendasi dari pemerintah. Biasanya aku mengajarkan mereka tentang Peta dan Bahasa Inggris. Itulah mengapa mereka memanggilku kakak Peta.

“Eh kakak ada hadiah untuk kalian,” Aku mulai merogoh isi ranselku.

“Hadiah apa kak? Fatma mau lihaaat….”

“Ta-daaaa…kakak bawa bumi,” Aku berpura-pura seolah globe kecil yang kubawa berat.

“Waaaaa, sini Coli bantuin.” Coli segera menghampiriku dan memegangnya, aku melepasnya. Dia menyipitkan matanya sebal karena aku membohonginya.

“Kak Daf bohong ih.” Aku tertawa. Belva ikut tertawa. Aku bersyukur dia bisa ikut pergi jalan-jalan sekaligus berbagi bersamaku. Aku tidak bisa membayangkan perjalanan panjangku 3 hari jika sendiri seperti tahun lalu, terasa begitu lama. Tapi berkat Belva, aku melewati hari-hari berkualitasku bersamanya. Semoga perjalanan kali ini tidak pernah terlupakan.

“Kakak bawa buku cerita juga…Siapa yang mau baca cerita?” Aku mengeluarkan sekitar dua lusin buku dari ranselku. Semoga semuanya bermanfaat bagi mereka.

“Akuu…”

“Fatma mau kaaak…”

“Coli mau menulis cerita kak Daf…”

“Akuuuu kak Peta….”

“Oh ya, belajar petanya nanti sore ya. Siapa yang mau baca buku di danau?”

Kami kemudian pergi ke Danau yang dekat dengan rumah baca. Namanya Danau Labuan Cermin. Danau yang ajaib, dia memiliki air dua rasa, tawar di permukaan dan asin dasarnya. Danau bening dengan pasir putih disekelilingnya. Indonesia memiliki itu.

“Daf, gue mau tinggal disini. Tolongin gue, gue jatuh cinta.” Bisik Belva di telingaku.

“I feel you, Bel.”

Aku mulai membacakan cerita untuk mereka, aku merasa Berau sudah seperti rumah kedua bagiku. Warga sekitar begitu tahu, tempat pertama yang kutuju adalah rumah baca, kemudian danau. Jadi mereka akan mulai mencariku sore harinya. Dan aku menghabiskan malam hari dengan berbincang panjang dengan mereka. Meski ada beberapa yang menimpali dengan bahasa lokal dan aku tidak mengerti maksudnya, namun semua itu terasa indah jika bersama.

“Ih Kak Daf, temannya cantik sekali,” Celetuk Acil (salah seorang bibi yang begitu dekat denganku sejak setahun lalu)

“Namanya Belva, Cil. Teman Daf.” Belva tersenyum malu, dan menjabat tangan Acil. Aku dan Belva menginap di tempat Acil.

Malam datang begitu cepat bagiku di WITA, meskipun itu hanya perasaanku. Belva tidak meributkan make-up lagi.

“Daf, thanks.”

“What?”

Life isn’t about satisfied with perfectness of yourself, but people satisfied and happy about you. gue sekarang tahu bahwa make-up bukan segalanya, semuanya mengatakan gue cantik, bahkan saat gue gak memakai bedak sekalipun.”

“Jadi?”

“Selamat tinggal make-up tebal. Berkeliling Indonesia membutuhkan waktu yang panjang, gue gak mau menyia-nyiakan keindahannya hanya karena kelamaan memakai lipstik dan eyeliner. Makasih Daf udah mau susah-susah nyeret koper gue, makasih udah mau ngajakin jalan-jalan ala loe.”

Good girl. Makasih juga Bel. Gue hampa tanpa loe.”

Perjalanan selalu mengajarkan banyak pelajaran. Mempelajari wilayah baru yang belum pernah kita tahu sebelumnya. Jatuh cinta dengan alam Indonesia. Jatuh cinta dengan kecantikan Berau, tanang dan memabukkan. Mempelajari sahabat yang akan kamu tahu lebih banyak jika kamu melalui perjalanan panjang bersama. This is my super-awesome journey, in my whole time I’d love how beautiful my Indonesia.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

New Office Outfit

New Office Outfit

Kate spade fragrance
997.000 IDR – katespade.com

Hair styling tool
783.245 IDR – blacewigs.com

Convertible handbag
327.945 IDR – sheinside.com

Wrap style top
2.565.105 IDR – mychameleon.com.au

Ally Fashion long sleeve coat
574.480 IDR – allyfashion.com

Translucent face powder
358.920 IDR – toofaced.com

Laura Mercier curling mascara
332.335 IDR – lauramercier.com

Lime Crime lipstick
265.865 IDR – dollskill.com

Armani Collezioni black crop pants
5.604.660 IDR – harrods.com

Christian Dior black leather pumps
13.891.565 IDR – therealreal.com