She is My Valentine

Aku masih ingat saat kamu menakut-nakuti semua anak di kelas dengan kecoa yang kamu bawa. Kamu gadis yang keren—menurutku. Kamu selalu dapat nilai A, padahal kamu sering tidak masuk sekolah—beberapa karena alasan pergi, sisanya tanpa alasan. Kamu adalah orang pertama yang kulihat tiap kali masuk kelas. Aku kagum dengan nilai-nilaimu, dengan caramu berteman waktu itu. Dimana kamu tidak berbicara dengan mereka, tetapi menawarkan crackers yang kamu bawa setiap hari. Bukan sembarang gadis yang menyukai benda serba pink, hello kitty. Tapi kamu tetap saja gadis manis rambut sebahu yang selalu pakai parfum aroma vanilla, jepit rambut berbentuk bintang dan menangis saat ditertawakan seisi kelas karena dituduh pipis di celana. Waktu itu usia kita Sembilan.

Berbeda denganku yang culun, kutu buku, pemalu, tak menarik, dan membosankan dengan kacamata minus. Kita pernah bicara sekali waktu itu, waktu kamu bertanya padaku aku minus berapa, kemudian kamu mengangguk-angguk mendengar jawabanku dan kamu langsung pergi. Sejak saat itu. Tidak pernah lagi. Dan masuk ke tahun berikutnya, kita tidak satu kelas lagi. Dan kamu tidak ada di kelas yang lain. Kamu menghilang, menyisakan rasa penasaran dan membuatku tidak mau masuk sekolah selama seminggu, karena kamu tidak ada. Tapi aku tahu kamu tidak akan pernah kembali, jadi aku memutuskan untuk kembali sekolah—tanpamu. Perlahan aku terbiasa sekolah tanpamu, bertahun-tahun tanpamu.

‘Itu adalah kata-kata yang ada dalam pikiranku. Aku tak cukup berani untuk mengutarakannya.’ Batinku meringis saat aku bertemu denganmu lagi setelah lima belas tahun.

Kamu berjalan mendekat membenarkan kacamatamu, memastikan bahwa kamu mengenalku. Kamu semakin mendekat dan berdiri satu meter dihadapanku. Tepat dibalik tumpukan buku resep makanan, aku membawa beberapa diantara mereka. Sedangkan kamu membawa beberapa buku tentang mesin.

‘Mungkin dia bekerja di bidang engineering’. Batinku polos.

“Hai, Kris.” Kamu malambai-lambaikan tangan di depan wajahku yang terbengong diam tidak merespon balik sapaanmu. Kemudian kamu menyenggol lenganku dan aku tersadar.

“Oh, , , hallo…Va..Valentine” Aku mendadak menjadi gagap dan buru-buru mengacungkan tangan ke arahmu. Kita bersalaman, rasanya aku tidak mau melepaskannya.

“Long time no see. How’s your life?” Tanyaku basa-basi, padahal rindu.

“Ehm, good. You? Hey, look at me…aku memakai kacamata. Dulu aku selalu penasaran dengan kacamatamu.”

“Oh, I’m good. You look good with that. Seriously? What you feel now?”

“I don’t like glasses. Pusing Kris. . . Eh kamu lagi cari resep makanan buat istri kamu?” Kamu masih menyenangkan seperti dulu. Ramah dan tidak basa-basi. Meski itu kali pertama kita bertemu lagi setelah sekian lama, kamu masih mengenali aku, dan kamu tidak gugup atau canggung sepertiku. Kamu membuatku jatuh cinta lagi, Valentine.

Aku terkekeh saat mendapati pertanyaanmu tentang apakah aku sedang mencari resep makanan buat istriku? Apakah kamu mau memintaku untuk membelikanmu buku resep makanan? Dengan senang hati. Aku merutuk pikiran gilaku.

“….” Aku hanya menggeleng.

“Buat pacar? Mama?” Kamu terlihat sangat penasaran aku membeli buku untuk siapa.

“Aku chef di salah satu restoran disini.”

“Seriously?”

“Iya.” Aku mengangguk dan mengamati wajahmu yang masih begitu sama dengan lima belas tahun silam.

“Jadi kamu bisa masak? Eh, salah. Jago masak.” Kamu menaikkan alismu yang sebagian terhalang ponimu yang cantik.

“Aku bisa menerima pesanan catering buat resepsi pernikahan kamu.” Aku mencari perkara dengan mengucapkan kalimat tersebut. Bagaimana jika kamu sudah menikah? Meski harapanku kamu masih sendiri.

“Ide yang bagus. Sayang…aku belum punya calonnya, Kris. Eh kamu udah makan siang belum? Makan yuk, sekalian reuni kecil-kecilan.” Kamu selalu terlihat penuh percaya diri seperti dulu. Membawa energi positif di setiap langkahmu.

Aku ingin meloncat setinggi-tingginya. Tak peduli atap bangunannya akan jebol. Tapi hal itu tidak mungkin kulakukan. Hanya terlalu bahagia karena tahu bahwa kamu masih sendiri. Tanpa pikir panjang aku langsung mengiakan, kebetulan perutku sudah keroncongan.

Setelah membayar buku belanjaan, Kamu menunggu giliranku disamping kasir. Aku baru sadar ternyata ada perempuan yang begitu mempesona saat sedang membaca struk belanjaan dan bersandar di meja kasir, mungkin karena itu Kamu.

Kita berjalan beriringan. Kamu sama denganku, tidak membawa apa-apa hanya kantong belanjaan yang berisi buku tentang engineering, sedangkan aku tentang resep masakan. Aku mengamati semua yang ada padamu saat itu. Kaos lengan pendek warna biru yang kamu pakai, sangat cocok di tubuhmu. Celana jins longgar yang melilit kakimu juga tak kurang apapun. Lagi, sandal jepit merk acorn. Lebih mahal dari kacamata minus 5 yang sedang kukenakan. Ditambah rambut panjangmu yang dikucir kuda terlihat semakin segar. Sama denganku, aku memakai kaos oblong warna hitam dan jins senada dengan jinsmu, biru tua. Lagi, sandal jepitku harganya cuma lima puluh ribuan.

Kita tidak berjalan terlalu jauh. Hanya naik satu lantai, food-court sudah di depan mata. Padahal aku berharap bisa lebih lama mengamati cara berjalan kamu yang santai tapi pasti. Akhirnya kita memilih makan di Fish & Co. Aku suka resto itu, meski terkadang ikannya overcooked. Ups, maafkan aku. Jiwa penghuni dapur terkadang membuatku repot saat harus makan di luar.

“Kamu kerja dimana Val (Vel)? Belanjaanmu tentang engineering gitu.” Aku mencoba beradaptasi dengan aroma reuni SD paling menyedihkan, karena hanya ada Kamu dan Aku. Tapi tidak juga. Aku mensyukurinya.

“Ha ha ha. Hanya hobi otak-atik mesin dan ngajar di salah satu univ swasta. Aku kerja di rumah. Nulis buku.” Kamu masih duduk santai di kursimu sambil menyeruput hot lemon tea.

“Apa? Hobinya ngajar? Kerjanya nulis? Fix banget kamu masih semenarik dulu.” Aku tidak menyesali pernyataan lancangku itu. Apalagi melihat ekspresimu yang masih datar dan santai.

“Dulu?” Kamu membenarkan posisi dudukmu.

“Iya. Kamu ingat gak dulu waktu kita SD, kamu selalu bawa crackers buatan mamamu dan menawarkan ke anak-anak di keals. Setiap hari. Menurutku itu menarik.” Aku mulai menunduk untuk menyembunyikan semburat merah di wajahku karena kamu baru saja tersenyum padaku.

“Kamu bagaimana bisa terjebak dalam kubangan makanan?” Kamu terkekeh di kursimu.

“Karena aku tidak mau membuat mama sibuk mencarikan aku calon istri, jika aku kelamaan sendiri nanti.”

“Ha ha ha. Kamu lucu sekali. Jomblo juga? How pathetic we are.”

‘Mungkin kamu adalah jodohku’ Tapi kalimat itu hanya ada dalam pikiranku.

“Dan makanannya datang. Itadakimasu.”

“Hai! Itadakimasu.”

Itu adalah makan siang paling enak yang pernah kumiliki. Meski ikannya (selalu) overcooked. Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan. Aku meminta nomor telepon kamu. Kamu dengan senang hati menyerahkan kartu nama kamu. Berhubung aku tidak memiliki kartu nama, aku langsung saja telpon nomor kamu. Dan di waktu yang sama, kamu mengangkat teleponnya.

“Hallo Kris, ini Valen (Velen). Aku save nomor kamu yah. Ha ha ha” Kemudian kamu mematikan teleponnya.

Setelah pertemuan Kita waktu itu, aku tidak berani mengirim sms ke kamu. Hanya menaruh nomor kamu di kolom to di tab sms baru. Satu bulan kemudian kamu datang ke restoranku. Kamu sebelumnya tidak tahu aku bekerja disana. Kebetulan aku baru datang sengaja lewat pintu depan dan melihat kamu duduk di kursi (sendirian). Tanpa sungkan aku menyapamu sebentar.

“Valen, kamu sendirian?” Aku tak sungkan duduk di sebelahmu. Kamu tampak terkejut dan langsung membagi senyum paling manismu.

“Kriiiis, don’t say this is the restaurant where you work in?”

“Yes here I am.” Aku mengatakannya dengan percaya diri. Berbeda dengan pertemuan pertama kita. Kali ini aku sudah memiliki lebih banyak persiapan. Mungkin kita sengaja dipertemukan oleh Tuhan, Valentine.

Akhirnya aku tahu bahwa kamu menyukai masakan di restoran tempatku bekerja. Meski waktu itu adalah kali pertama kamu mencoba makan disana, kamu tidak bosan untuk datang lagi. Memesan menu yang sama. Setiap kali kamu akan datang, kamu mengirim pesan padaku. Memintaku untuk menemanimu makan. Kamu menceritakan hari-harimu yang kadang mengasyikkan, mengharukan, melelahkan. Sama halnya denganku. Kita menjadi tahu satu sama lain. Hal itu menjadi kebiasaan yang terus terulang.

Bulan berikutnya aku memprediksi kamu tidak akan datang lagi. Ternyata aku salah, kamu mengirimi aku sms akan datang. Aku saat itu sedang mengambil jatah libur kerja, menunggu kamu di kursi dimana kamu selalu duduk memakan masakanku di restoran tempatku bekerja. Aku melihat kamu turun dari taksi. Aku berdiri dari dudukku, kamu membuka pintu dengan kemeja garis-garis biru dan rok selutut yang sangat cantik. Kamu mendekat dan menaikkan alismu bertanya.

“Mengapa tidak memakai seragam chef-mu?”

“Aku sedang libur kerja, bagaimana jika kita makan diluar? Dilanjutkan dengan nonton, is it okay?” Kamu terlihat menimbang-nimbang keputusanmu, aku khawatir kamu akan menolak. Dan aku menghembuskan nafas lega lewat hidung saat kamu bilang ‘Deal’.

“…. ehm… Deal.”

Aku ragu-ragu menggandeng tanganmu. Lembut. Itu kali kedua aku menyentuh kulitmu. Pertama saat kita berjabat tangan di toko buku dua bulan sebelumnya. Kamu tidak keberatan dan menggenggam balik tanganku. Baru kali ini Kita berjalan dengan jarak yang begitu dekat. Tinggimu sejajar dengan tulang rusukku, mungkin kamu memang benar jodohku.

‘Tuhan, kumohon kabulkan do’aku.’ Batinku memohon.

Kamu hari ini meskipun terlihat agak malu-malu. Tapi tetap saja manis dan menyenangkan. Sepanjang malam, Kita sering bersamaan membenarkan posisi kacamata yang suka miring. Mobilku sepertinya butuh servis. AC sudah dinyalakan tapi tetap saja panas. Aku mengantarkanmu pulang. Ini kali pertamaku tahu rumahmu. Tidak terlalu jauh dari rumahku. Mungkin satu jam jika tidak macet. Seperempat menit dari tempat kerjaku.

“Terimakasih untuk hari ini Kris.” Itu adalah senyuman paling manis yang kamu miliki. Kita masih saling menatap di dalam mobilku. Aku menggenggam tangan kananmu.

“Valen. . .” Kata-kataku mengambang.

“Mmh…” Jawabanmu tak kalah mengambang menanti kelanjutan kalimatku.

Aku menarik nafas panjang kemudian melepaskannya.

“Valentine, do yo wanna be my valentine?. . . Do you wanna be my valentine in your whole life?” Kulihat Kamu membelalakkan matamu dan membawa tangan kirimu menutup wajahmu yang semakin memerah.

Begitupun denganku, detak jantungku semakin tak bisa dikalkulasi dalam satuan angka. Bahkan aku tak percaya sudah mengatakan kalimat tersebut. Kalimat yang membuat wajah cantik meronamu semakin memerah seperti kepiting rebus. Aku terharu bisa melihat momen paling luar biasa seumur hidupku. Melihatmu tersipu, Val. Anak SD yang dulu suka menakuti teman sekelasnya dengan kecoa dan kadal itu, bisa bereaksi semanis itu. Aku semakin jatuh hati, Val. Aku mencintai Kamu.

Jawaban yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Meski hanya anggukan. Aku menarikmu kedalam pelukanku. Aku bahagia. Aku ingin menangis saja. Aku membisikkan tiga kata itu untukmu yang ada dalam pelukanku, tepat di telinga kananmu.

“I love You.”

Dan Kamu membalasnya. “I love You too”

Aku mengantarmu sampai di depan pintu rumahmu. Sudah terlalu larut untuk berkunjung.

“Val, can I hug you?”

“Yes, please.” Kamu menjawab dengan pasti. Ya, itu adalah Valentine. My Valentine.

Sejak hari itu, Kita selalu merayakan hari ulang tahunmu bersama. Aku melamarmu dua bulan kemudian. Dan bertunangan satu bulan berikutnya. Pada ulang tahunmu yang ke-26 aku dengan yakin menuntunmu berjalan diatas altar dan berjanji di depan pendeta. Kuharap itu menjadi kado ulang tahunmu di hari Valnetine yang paling indah. My love, My World, My Valentine.

Ini adalah surat untukmu, kado ulang tahun pernikahan kita yang pertama. Semoga Tuhan selalu memberkati langkah dan perjalanan berarti hidup kita. Yang paling membahagiakan lagi, Kamu sedang mengandung bayi kembar Kita. Aku mencintaimu, Valentine, dan akan selalu mencintai kamu.

Milikmu. Kris.

**

candy-wallpaper-1680x1050

Good Thing Won’t Last Forever

Betapa inginnya aku dikhawatirkan olehmu, seperti yang kamu lakukan padanya. Orang lain yang bahkan tak lebih mengenal kamu daripada aku. Kita banyak menghabiskan waktu bersama.

Betapa inginnya aku melihatmu begitu panik, seperti yang kamu lakukan padanya. Hanya karena dia tidak membalas pesan pendekmu yang sering kamu salahkan. Pesan yang tak pernah salah, dia hanya menumpahkan sayang, terlalu sering kamu kirimkan hingga membuat isi kepalaku ingin melompat keluar, aku cemburu.

Terlalu banyak hal-hal bahagia yang telah kita lewati. Aku salah jika menganggapnya sebagai akhir yang bahagia pula. Aku mengambil jalan yang salah. Aku tidak tahu banyak tentangmu. Aku lelaki yang sangat tidak peka. Ternyata aku salah tidak mengungkapkan perasaanku. Kamu lebih tidak peka lagi tentang perasaanku kepadamu.

Kurang apa lagi? Kita berbicara sehari lebih dari 24 denting jam di Gereja tua yang sering kita datangi. Tapi rasanya itu saja tidak cukup. Aku tidak pernah merasa perlu untuk mengatakannya, tapi aku salah menebakmu.

Memang benar. Bagaimana kamu tahu jika aku tidak mengatakannya. Bagaimana kamu tahu aku ingin memelukmu jika aku hanya tersenyum padamu dari jendela kamarku. Bagaimana kamu tahu aku mencintaimu jika aku hanya diam saja saat kamu bercerita tentang laki-laki lain. Alibi ingin melihat kamu bahagia dengan mencabik-cabik hatiku sendiri.

Mungkin aku bisa menuliskan ini untukmu,

Hi, long time no see. Harya? You always look that good and hawt.

Can I kiss your lips and taste your sauvignon?

Ah, let’s grab the vines and wrap it on our whole sexy body

Don’t your favorite place is my bed? Me too, I built it for you and me

Please come in and bring your vines

“Ha ha ha, sepertinya transmisi otakmu sedang rusak.”

Itu adalah respon pertama yang kuterima saat aku bertanya “Will you be my life support ahead?

Atau…

“Tsk, bagaimana Gereja mau menerimamu lagi?”

Itu adalah respon kedua yang kamu berikan padaku saat aku mengatakan “You’re looking super-hawt today.” Mungkin aku salah mengatakannya di pintu Gereja.

Dan.

Oh my God. Ken, you should read psalms book more

Asal kamu tahu, kamulah yang membuatku selalu datang lebih awal pada hari minggu. Rela meninggalkan pekerjaanku untuk bertemu denganmu lebih lama. Menunggumu di tepi gerbang dan tanpa perintah kamu melingkarkan lenganmu padaku, kita berjalan masuk kedalam. Aku selalu membayangkan suatu saat kita akan berjalan diatas altar dengan pakaian terbaik kita seumur hidup, mengucap janji hidup di depan pendeta. Kebaikan-kebaikan itu hanya semu.

Saat dimana kamu selalu telepon ke nomor rumahku tepat denting ke 21 setiap hari. Kamu adalah orang pertama yang menjengukku saat aku sakit, mengusap-usap lenganku dengan muka konyolmu. Kamu selalu memanggil namaku saat ada serangga di kamarmu, dan aku hanya tertawa. Tapi kemana hatimu pergi? Pada lelaki sempurna.

‘He’ll be a hero, protect you in a rush when mugging in front of my house.’

‘He’ll give you a trophy when you giving him an one night stand’

Dia sempurna meski dia tidak pernah mencintaimu seperti aku. Tapi aku yakin,

He could be your preacher.’

You have to make decision, Ken.” Perintahku pada diriku sendiri.

Ya, kamu benar! Setelah kubaca kitab mazmur berulang kali, aku memutuskan untuk tidak mengangkat telepon darimu. Tidak membalas pesanmu. Tidak merespon chat mu. Sakit? Jangan bodoh! Tentu saja. bagaimana bisa aku mengabaikanmu? Tapi aku harus membuat keputusan.

Too much of a good thing, won’t be good anymore. Good thing is not for last forever. I am yours, not now darling. Even I enjoyed it, but stay with you would be wrong.

Lamps