Love and Me

Aku bersahabat dengannya. Sahabat terbaikku sepanjang masa seumur hidupku. Kekasih yang sangat kucintai. Belahan jiwa yang tak ingin kubagi. Seorang pecinta ulung yang tak pernah mengungkapkan hanya melakukan. Tak pernah membenci hanya menolak. Tak pernah menyakiti hanya menghindari. Tak pernah membohongi hanya tak diketahui. Aku menyayanginya.

“Sayang, sarapannya sudah siap. Aku kembali ke apartement dulu. Kamu bangunlah. Libur kantor kan? Kulihat mesin cucimu sudah penuh.” Kudengar dirinya sedang mengoceh di meja makan. Sedang memakan sarapan yang dibuatnya sendiri. Memintaku untuk segera bangun dan mencuci pakaianku. Inti dari kalimatnya adalah jangan jadi bantal yang bermain dengan selimut dan keringat musim panas yang baru dimulai ini.

Aku menggeliat di ranjangku. Dan mulai mengumpulkan nyawaku. Kemudian kuputuskan untuk bangkit dari ranjang besar dan empukku. Piyama yang kukenakan masih lengkap, seperti biasanya. Tak pernah sekalipun diantara kami yang melanggar perjanjian. Kita memang sepakat untuk menjaga semuanya sebelum pernikahan. Dia melindungiku. Seorang sahabat yang melindungi teman gadisnya dari bahaya. Aku merasa tidak masalah dia selalu bermalam di apartemenku. Toh tidak ada yang dirugikan. Kita saling mengerti dan tidak ada komplain atas apa yang terjadi. Bukankah pemilik wewenang adalah mereka yang memegang wewenangnya? Maka wewenang itu milikmu, kau pegang dengan tanganmu sendiri.

“Pagi, sayang.” Aku duduk disampingnya. Mengamati wajah tampannya. Rambut lurus sedikit berantakan usai mandi dan terusap oleh handuk tanpa disisir. Kaos abu-abu longgar yang terlihat begitu panas melekat di tubuhnya yang bidang. Sekarang sedang menggoda. Bukan. Dia hanya mengunyah roti panggang telur nya. Tapi itu sungguh seksi dan menggairahkan untuk seorang dewasa sepertiku saat bangun tidur. Aku mendekat padanya dan mencium pipinya.

Kulihat dia menoleh dan memicingkan matanya. Kemudian kembali pada makanan sialan itu dan mengabaikanku. Aku kembali duduk tenang dan meminum air digelas yang kuyakin dituangkannya tadi. Gelas dengan motif sama milik kami sedang berdiri bersebelahan di meja makan, setiap pagi.

Kulihat dia sudah menghabiskan sarapannya. Wajah mengesankannya meyembunyikan senyuman yang entah apa yang tersembunyi dalam senyuman itu. Aku kembali menegak habis air didalam gelasku. Wait, dia berdiri dari kursinya dan mengambil jaketnya di samping ranjang. Apa dia sedang meninggalkanku setelah sarapan? What the hell this morning? Is he mad or something? Tak ada angin tak ada hujan dia melangkah lebar kearahku dengan jaket yang menggantung dilengan kirinya sedikit berkibar. Dia menarik pinggang kecilku mendekat padanya. Semakin mendekap dan merapat. Piyamaku semakin menyekap tubuh mungilku. Tingginya membuatku sedikit kesulitan melihat wajah tampannya. Dia kembali merekatkan tubuhnya padaku. Kudengar dia menjatuhkan sesuatu. Itu jaket yang tadi tergantung.

Satu tangannya masih melingkar di pinggangku, dan satu tangannya menarik wajahku kearahnya. Dia menunduk, menatap wajahku. Tersenyum. Oh God, let me dig the hole, and put me into it with him, I’ll happy forever, bisikku dalam hati.

Dia menciumku. Bibir kita bertemu. Dia semakin bermain liar dalam mulutku. Oh Tuhan apakah dia lupa aku belum mencuci mulutku dengan Listerine dan dia sudah seenaknya menelanjangi mulutku. Aku mengerang, tapi sepertinya dia tak peduli. Akhirnya aku ikut larut kedalamnya. Semakin dalam, rasanya sedikit manis sisa roti panggang, dan gurih mentega. Aku tak ingin melepaskannya. Kemudian berhenti saling berebut nafas dan tertawa. Kemudian dia melepas pelukannya dan kedua tangan besarnya sudah meremas pangkal lengankuk dan menyikat kilat bibirku hanya dalam dua detik dan dia melambaikan tangan.

Bye. . .cuciannya sayang.” Aku melihat punggungnya hingga menghilang dibalik pintu setelah bunyi ‘klik klik’ dari pintuku tanda terkunci. Kemudian aku menghabiskan sarapan buatannya kemudian aku kembali ke kehidupanku.

Aku selalu berada di dunia mimpi saat sedang bersamanya. Kian menjadi bahagia saat pertemuan kita diakhiri dengan kecupan-kecupan manis yang menghangatkan. Meskipun dia tidak pandai mengungkapkan tapi dia pandai melakukan. Meskipun dia selalu mencoba melakukan sesuatu yang romantis dan tertangkap basah olehku sebelum dilakukannya. Dia sungguh menggemaskan. Begitupun dia yang selalu mengatakan hal yang sama tentangku.

Umurku 29 tahun, umurnya  27 tahun. Kita hanya beda beberapa tahun saja. Tapi sikap kami jauh berbeda. Dia sungguh dewasa menyikapi sesuatu, berbeda denganku yang harus meminta persetujuannya untuk melakukan sesuatu, karena aku memang begitu gegabah dan tidak memikirkan hasil jangka panjang dari apa yang akan aku lakukan. Dia mungkin bisa dikatakan sebagai manager pribadiku. Meskipun aku memiliki manager agensi sendiri tapi tetap keputusan terkadang dia yang menentukan. Yah, kan sudah kubilang tadi, dia memang sangat melindungiku. Bukan posesif seperti yang kalian pikirkan. Dia laki-laki bertanggung jawab. Meskipun kutahu dia sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai manager perusahaan multinasional manufaktur di kota metropolitan ini.

Aku kembali kepada rutinitas rumah tangga yang membuatku memutuskan untuk tidak mandi dulu melainkan mencuci satu mesin cuci penuh baju kotor, meskipun ada sebagian baju miliknya. Aku tidak keberatan, karena terkadang dia yang melakukan pekerjaan melelahkan ini. Aku mengerjakannya dengan kilat. Dua jam kemudian, aku sudah menjemur semua pakaian itu di balkon apartemenku yang cukup luas untuk menjemur baju dengan dua larik tralis membujur. Setelah itu aku mandi, berendam dengan bodysoap wangi anggur kesukaannya. Dan melihat daftar list  harian yang akan aku lakukan.

“Pemotretan majalah fashion Amazing Woman” Aku bergumam dengan bibirku sendiri. Kemudian aku segera berganti pakaian yang semula hanya berbalut handuk putih lembut milikku. Kukaitkan ikat bra warna putih senada dengan kaos warna putih milikku—yang sama dengan milikny. Celana jeans warna biru gelap membalut kaki jenjang kecilku dengan sempurna, tak lupa sepatu flat warna senada dengan celanaku. Aku mematut didepan cerminku mengikat kuda rambut sebahuku. Memoles tipis pelembab ke wajahku.

Aku bukanlah model tetap. Hanya kerja sampingan. Yah meskipun dulu sebelum aku bekerja di kantor penerbitan, pemotretan adalah ladang uang utamaku. Tapi aku memutuskan untuk bekerja di kantor agar bisa lebih meluangkan waktuku untuk diriku sendiri maupun keluarga dan teman-temanku. Apalagi dia, Alvin.

Tuuut tuuuut. Aku mendengar nada tersambung ke nomor Alvin.

“Iya, sayang? Sudah mandi?” Kudengar suaranya sedang mengunyah sesuatu. Mungki strawberry kesukaannya.

“Asalkan kamu tahu saja, aku sudah tampil seksi dengan kos putih pilihanmu. Ha ha ha”

“Hah? Aku bisa saja langsung lari ke kamarmu dan merobek kaosmu. Ha ha ha. Kamu harus pakai sweater dulu. Apakah ada pemotretan?” Kudengar dia terkejut. Karena memang aku hanya memakainya saat sedang berjalan dengannya atau makan malam diluar. Tentu saja dia tidak bercanda untuk lari ke kamarku dan merobek kaosku, karena memang apartemenku hanya beda beberapa lantai dari miliknya.

“Tentu. Aku ada pemotretan sampai malam sepertinya. Apakah kamu ingin titip sesuatu?”

“Hmmm, padahal aku ingin mengajakmu ke cabang baru perusahaan di pulau seberang. Mungkin besok kita berangkat agak pagi. Waffle coklat dan durian ya. Muaaaccchhh”

“Hmm, muaaaachh” Bahkan telepon pun diakhiri dengan ciuman.

Benar saja malam hari aku baru selesai dan terburu mengganti pakaian dari sponsor dan memakai kaos putihku, tak lupa sweater hitam. Kemudian memacu mobilku ke Wafflelotte untuk membeli titipannya. Lalu aku kembali masuk kedalam mobil hitamku dan kecepatan semakin kunaikkan karena tidak sabar keseksian seorang Alvin yang menggunyah Wafflenya nanti. Aku tergelak di balik kemudi.

Aku mencari-cari sosoknya saat membuka pintu apartemen.

“Oh Alvinku, kenapa kamu tidur di sofa? Sudah tahu nggak jago tahan kantuk.” Aku bergumam dengan diriku sendiri.

Aku melihat patuh yunani sedang tidur di sofa dan kakinya menggantung di ujungnya. Bagaimana bisa manusia sepanjang ini memilih menyelonjorkan kaki super panjangnya di sofaku? Aku menggeleng pelan. Kutaruh waffle titipannya di meja sebelah sofa. Dan meninggalkan tasku di gantungannya. Aku kini telah bertransformasi menjadi wanita super dengan piyama garis-garis warna hitam miliknya, kedodoran dan aku suka. Kemudian aku membawa laptop dan berniat menyelesaikan proyek kantorku bulan ini. Aku sedang bersandar di sofa tempatnya berbaring. Aku tidak mungkin menggendongnya dan melemparkan ke ranjang, beratnya bisa saja dua kali berat badanku. Aku memutuskan untuk menyelimutinya dengan silki warna putih kesukaannya.

What? This project will be bunch of mess if I just stuck here.” Aku sedang menyumpahi proyek kantorku yang benar-benar berantakan. Jadi aku segera merapikannya. Kuharap patung dibelakang sandaranku tidak bangun. Dia lebih mirip mayat saat sedang tertidur. Aku kembali ke pekerjaanku dengan bekal segelas kopi hangat disampingku. Bahkan aku tidak sadar sampai kapan dan akhirnya aku tidur tersandar di sofa belakangku yang jelas-jelas disana ada Alvin. Mataku terpejam, tapi aku masih bisa merasakan semuanya. Bunyi AC yang mendengung pelan membuatku ingin bangkit dan membantingnya. Aku mendengar semuanya. Denting jam yang membuat semua orang merasa gugup dan dikejar waktu. Bahkan suara detak jantungnya tak kalah menarik dari denting jam, berpacu dengan waktu. Aku menyukainya.

Kurasakan sofa sedikit bergerak, apakah Alvin terbangun? Mataku terlalu berat untuk memastikannya. Aku terpejam, tapi masih berada di jalan menuju mimpi. Belum penuh berada dalam tidur apalagi merasakan sensasi mimpi. Dan kudengar dia bergumam.

“Ya Tuhan, Reiny sayang. Kenapa tidur disini.” Setelah mengucapkan kalimat itu, dia bergerak dan turun dari sofa, duduk sejajar denganku. Kurasakan badannya berada disampingku. Kemudian dia mencium keningku.

“Bahkan kamu terlihat sangat cantik saat tertidur. Jangan sering-sering pemotretan dengan baju seksi. Itu akan membuatku sekarat.” Dia masih berbincang dengan dirinya sendiri. Tanpa mendapat jawaban dariku. Kudengar samar-samar dia mengendus. Ya Tuhan. . . hidung babinya mencium kotak waffle disamping sofa. Dia sekarang memelukku. Tidak. Karena dia harus mengambil waffle disebelah kiriku. Maka dia memiringkan tubuhku kepelukannya. Dan dia melahap habis. Babi kelaparan yang baru saja bangun tidur. Selang beberapa menit. Dia menggendongku dengan kedua tangan besarnya, membaringkanku ke ranjang. Mataku masih terpejam tapi jujur hatiku berbunga, bahkan dia melakukan hal-hal yang manis meskipun mataku tak melihatnya. Lalu dia berbaring di sebelahku dan menarik selimutnya, berakhir dengan pelukan. Saat itulah aku benar-benar tertidur dan melampaui mimpiku dengannya, bergandengan terbang melintas batas, menari di antara pelangi, dan terbangun mendapatinya masih terpejam.

Sinar matahari terlihat menembus dari celah-celah korden warna tosca ku. Aku menoleh kesamping, dia masih terpejam nyenyak. Aku mulai berulah dengan jari-jari tanganku. Menjalar di seluruh wajahnya. Mulai dari alis—kedua alisnya yang panjang hitam menggoda, bulu mata yang lentik dan tebal, hidung mancung yang terkadang bertautan dengan hidung mungilku dan itu sedikit mengganggu saat dia ingin menciumku. Tapi jujur aku suka hidung mancungnya, menusuk. Dan berakhir di bibir seksinya. Ya Tuhan aku tidak akan pernah meninggalkan laki-laki sempurna ini apapun alasannya. Dan kudapati dia tersenyum. Sepertinya dia terbangun karena ulahku yang memang menggelikan. Aksi bodohku diakhiri dengan bunyi ponselnya yang meraung-raung.

“Sayang, ada telepon buat kamu. Jangan bilang kamu masih mengantonginya? Oh God…” Dia bergerak masih terpejam dan tangannya mengambil ponsel di kantong celananya dan menyerahkannya untukku.

“Siapa?” Aku terkejut melihat nama di layarnya. “Mama, Tante Syena telepon. Cepat bangun. Dan bicaralah.” Aku kemudian menekan tombol hijau di layar. Dan dia bergumam tertangkap basah.

“Baik sayang. . .” kemudian duduk dan menyalakan loudspeaker.

Sayang? Ini mama Alvin– Kemudian dia membelalakkan matanya dan menahan tawa melihatku. Aku memukulnya pelan.

-Ah mama, kukira. . .ah iya ada apa ma?- Aku yakin dia pandai berakting untuk menyembunyikan hubunganku dengannya yang sepertinya akan mengagetkan keluarganya. Seorang kakak kelas di SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi sekarang sedang berbaring di ranjang. Tentu akan sedikit mengejutkan meskipun dewasa ini bukan hal tabu lagi berhubungan dengan seseorang yang usianya lebih muda.

Mama tadi antar sup iga kesukaanmu. Mama taruh di meja makanmu. Mama buru-buru jadi langsung balik

-You are so sweet mom. Love you, angel-

-Hmmm-

Sambungan terputus dan wajahnya kembali terpaku kearahku.

“Kenapa tadi gak bilang udah dijawab teleponnya?”

“Kamu tak cukup sadar, sayang. C’mon wake up and do you remember that you  invited me to go to ur new ferchaise yesterday huh?

Are you kidding me? Of course not. Let’s have a bath together?

“. . .” Aku langsung bangkit dari ranjang dan menghindarinya.

Setelah berberes selesai, dia kembali ke kamarnya dan mengambil koper kecil untuk 2 hari bepergian. Sebelumnya kedua dari kami menghabiskan sup iga yang dikirimkan mamanya Alvin. Aku juga dengan satu koper kecilku. Aku sangat menikmati perjalanannya, apalagi dengan Alvin. Semuanya akan terasa lebih indah dan hangat. Jendela pesawat terlihat lebih lebar dari biasanya atau ada yang salah dengan mataku. Aku terlalu terpesone dengan Alvin yang sejak duduk bersandar disampingku hanya menatapku tak mengalihkan pandangannya. Aku tersipu dan bersembunyi di balik lengannya dan tertidur disana. Hingga beberapa puluh menit kemudian. Aku terbangun saat landing dan Alvin masih tertidur disandaran dan kakinya berada di selonjoran. Tuhan, ada laki-laki super tampan yang selalu membuatku sesak nafas, kekasihku.

Kita menuju penginapan yang jangan ditanya! Tempat superromantis yang pernah kukunjungi dengannya. Saat membuka jendela balkon. Yang ada adalah pantai yang menjalar panjang dari ujung ke ujung. Semburat manis awan di pelupuk laut biru yang menggoda siapapun yang berebut penginapan ini. Dan ini sangat manis.

Malam datang. Aku bertanya-tanya, bukankah dia mengajakku untuk melihat cabang perusahaannya yang baru? Dan Well!, ternyata dia berbohong. Dia justru mengajakku ke restoran mahal penuh dengan lilin dan sangat romantis. Bahkan aku ternganga melihatnya mengajakku ke tempat seperti ini. Yah meskipun ini bukan masalah harga, tapi kapan dia menyiapkan ini semua? Aku sedikit ingin meneteskan air mataku karena terlalu bahagia. Dia sekarang sedang berlutut di depanku? Ada yang salah dengan kakinya? APakah kursinya membuatnya tidak nyaman? Ternyata tidak. Dia mengeluarkan kue dari dalam jasnya dan memberikannya padaku. Apa dia melamarku dengan kue kecil ini? Pikirku. Kemudian dia memintaku untuk memakannya. Dan aku langsung memakan dan menelannya.

“Bagaimana?”

“Enak, manis.” Dia sedikit terkejut dengan jawabanku. Memang kuenya enak. Dia yang sedang duduk di depanku langsung berdiri dan memintaku untuk memuntahkan kuenya.

“Keluarkan kuenya sayang…” Dia terlihat agak terkejut dengan mencengkeram lenganku.

“Sayang…calm. Why? I’m oke. What’s wrong with the cake?”

“Aku menaruh cincin didalamnya. Dan kamu menelannya.” Aku memelototkan mataku terkejut dan memegang leherku seolah cincinnya tersangkut disana.

“Ha ha ha. . .”

“Kenapa tertawa?…”

“Taraaaaaaa…..” Aku mengeluarkan cincin yang kusembunyikan dibawah lidahku. Dasar gila. Bagaimana bisa dia meletakkan cincin didalam kue? Tapi aku terharu. Dan sekejap dia mengambil cincin yang masih penuh dengan air liurku dan tanpa jijik memakaikannya di lenganku.

Yah, aku sekarang sudah terikat. Aku miliknya. Setelah sekian lama selalu berpikir kapan semuanya akan berakhir dengan cincin yang melingkar di jari manisku. Dan hari ini, dia melamarku. Kekasih yang sangat kucintai, Alvin.

 Image

CINTA

Aku sudah tahu sosok cantiknya sejak trainingku tahun pertama di dunia yang setahuku glamour ini, industri perfilm-an, sekitar delapan tahun yang lalu. Dia gadis yang sungguh memesona siapapun, dengan performanya yang selalu mengagumkan dan gestur tubuhnya yang halus dan tenang.

Namanya Calista Elysia, dan usianya tiga tahun lebih tua dariku. Dan apakah kalian tahu arti dari namanya yang berasal dari bahasa Yunani itu? Calista Elysia, kecantikan yang luar biasa dari surga. Demi Tuhan dia sangatlah cantik bersinar bag bidadari, matanya berwarna coklat gelap tajam dan memabukkan, bibirnya berwarna merah muda menyala dan aku yakin rasanya sangat manis. Hidungnya kecil mungil menggemaskan, dengan rambut berwarna coklat tua senada dengan alisnya yang bagai bulan sabit mendebarkan hatiku setiap melihat sosoknya. Tubuhnya kecil mungil dan indah menawan.

Hingga akhirnya aku dipasangkan dengannya dalam satu frame dengannya, di drama remaja yang kuyakin akan naik daun saat pertama aku melakukan casting dan ternyata aku terpilih. Sungguh beruntung aku dapat bertemu dengannya, secara intens. Dan kalian tahu, aku telah jatuh cinta dengannya sejak lama, meski setiap wawancara aku mengatakan artis lain yang menjadi tipe wanita idamanku. Seperti Coco Rocha dan Jessica Alba, meski sebenarnya aku ingin menyebut nama Calista Elysia. Tapi aku menjaga kewenangannya, karena aku memang belum begitu mengenal sosoknya pada saat itu. Namun, setelah perkenalan dengan seluruh cast di drama tersebut termasuk Calista, sungguh dia baik hati dan tidak sombong. Malah bersikap manis dan membuatku semakin gemas dengannya.

Dia menjabat tanganku, aku membalasnya dengan tak kalah mengagumkan tampangku, telapak tangannya berada seluruhnya dalam genggamanku. Sungguh mungil.

Kita makin sering bertemu karena tuntutan pekerjaan, dia sangat menyenangkan, dan apakah kalian tahu, dia sangat suka makan, meski tubuhnya tidak bergelambir dan tetap semungil itu. Aku merasa semakin tak tahan untuk menyembunyikan perasaanku. Sampai pada malam syuting terakhir drama ini, aku mengatakan apa yang kurasakan selama ini padanya.

“Ah, Hesper. Aku menghargai perasaanmu. Tapi kakak ini sungguh terlalu tua untukmu. Aku tidak cukup waktu untuk bermain-main denganmu.” Aku hampir pingsan setiap dia memanggil namaku, Hesper yang artinya bintang petang.

“Calista for real, it doesn’t matter at all about line! I’m serious, cause I know this life isn’t a game or adrenaline zone. Apakah cinta hanya didasarkan pada perbedaan usia, bukankah itu akan membuatku semakin sulit untuk berada didekatmu”

“Hesper, thanks. Aku tersanjung. Hey, are you just called me Calista?. . .” Aku tahu dia sedang bercanda dan menjitak kepalaku pelan. Ah, ini sungguh membahagiakanku. Aku membalasnya dengan senyuman. Memang dia selalu mempermasalahkan panggilanku padanya tanpa ‘kak’. Beda tiga tahun bukanlah masalah besar bukan? It must be.

Tidak semudah membalikkan tangan, aku harus menunggu enam bulan untuk mendapatkan jawabannya. Tepat dihari ulang tahunku. Itu adalah kado terhebat yang pernah kudapat. Aku memiliki seorang kekasih, gadis cantik menawan dan mengagumkan siapa saja. Dan dia menciumku. Tepat di bibirku, dengan bantuan sepatu hak tingginy menarik wajahku untuk sedikit memudahkannya berada di area nyamannya. Aku tidak menyia-nyiakan ini semua. Aku melumatnya habis, menyesap tiap sudut mulutnya, dan sungguh, bibirnya amat manis, mungil dan manis, rasa stroberi. Aku tak akan pernah mengijinkan siapapun memilikinya. Semua berawal dari this cute kiss. Dia berkata pelan padaku saat ciuman manis itu diakhiri dengan menyisakan rasa manis bibirnya di bibirku.

“Apakah kamu percaya pada Kitab? Dia menyebutkan bahwa hati wanita tercipta dengan ruang cinta yang lebih luas. Meskipun pada awalnya wanita tidak merasakan apapun dalam hatinya, namun ruang dalam hatinya perlahan akan menumbuhkan cinta itu. Dan aku tahu, aku talah menumbuhkan cintaku padamu dengan sangat baik. Apakah kamu percaya?”

“Bukankan khotbah dari lembutnya suaramu adalah yang paling indah. Tentu aku percaya pada Kitab yang niscahya dinobatkan Tuhan untuk membimbing kita. Aku mencintaimu Calista.”

“Aku sungguh mencintaimu, Hesper” Dan kita saling berpelukan. Bukankah itu manis? Aku sangat menyukai kata manis dalam hidupku setelah bersama Calista.

Kini sudah terhitung lima tahun hubunganku dengannya. Pasang surut sudah kita lewati. Saling percaya dan memahami. Dia adalah lulusan filsafat, jadi jangan berdebat dengannya terlampau jauh, aku tetap mencintainya meskipun begitu. Dan apakah kalian tahu kita menyembunyikan hubungan ini dari public. Kenapa? Aku tidak ingin Calista terluka atau disakiti oleh penggemar yang fanatik kepadaku. Meskipun aku sering memakai sepatu, jas, sweater, topi dan ransel yang sama dengannya, namun tak banyak yang menyadari, hanya orang-orang terdekat saja. Dan di tahun keenam ini aku ingin mengakhiri persembunyian, Calista telah menyetujuinya. Kita akan go public dan melangsungkan pertunangan tepat di hari ulang tahunnya. Bukankah itu manis? Kurasa demikian.

Saat cinta datang, maka kamu harus siap mata, telinga, dan hati untuk membagi suka dan duka. Karena saling cinta bukanlah awal dari hubungan yang tidak selalu baik. Namun, awal dari rintangan yang didatangkan pada hamba Tuhan untuk saling memperbaiki. Maka kasih sayang yang tersisa tidak untuk dibuang, namun saling mengasihi satu sama lain.Image