EUPHORIA RASA

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! www.thebaybali.com

 

-I think I want to meet you in person Lean-

Aku tidak lagi terkejut menerima pesan pendek lewat riwayat chatting dari Jin Ae—teman dunia mayaku. Seorang laki-laki keturunan Korea-Filipina. Aku percaya bahwa dia tidak berbohong, karena semua poto dan timeline-nya berisi negeri gingseng itu. Aku sering mendapat pesan lewat obrolan email darinya, dia selalu ingin datang dan bertemu denganku. Aku hanya tertawa saja membalas obrolannya. Aku menganggap kalimatnya hanya basa-basi belaka.

~Kenapa kamu terdengar begitu serius?~ Aku membalas cepat kali ini.

-Yes, Cause I’m really serious, now-

~Kapan kamu akan datang? Aku bisa mengatur waktunya (maybe)~

-Lusa. Ada event Asian Surfers di Bali. Mungkin kamu bisa datang-

 Aku kali ini benar-benar membelalakkan mataku. Memastikan kalimat dilayar laptopku bukan imajinasiku semata, tentang kedatangannya Lusa. Kuharap dia sedang tidak mabuk. Aku tidak terkejut dia membalas dengan bahasa Indonesia, pasti menggunakan translator.

-Lean, kamu masih disana?-

~Yes, I’m here. Lusa? Kamu mendarat jam berapa? Mungkin kita bisa bertemu di bandara~

-Sekitar jam 9 pagi waktu Bali. Atau aku harus menjemput di Jakarta?-

~Nonsense! I need some holiday, too. We’ll meet at airport ya!~

-Oke. I’ll wear blue jacket and grey hat. See you, there, Lean!-

Sabtu. . .

Pesawatku mendarat jam 09.10 waktu bali. Padahal seharusnya jam 9 kurang lima aku sudah tiba. Delayed 15 menit di Bandara Seo-Tta tadi karena ada beberapa berkas salah seorang pejabat yang satu pesawat denganku tertinggal di waiting room.

Aku sedang terburu-buru ke toilet. Jangan tanya mengapa? Yah, kebiasaan buruk usai naik pesawat, kebelet.

Sesaat setelah keluar dari toilet, aku baru menyadari ternyata diantara kami belum saling berbagi nomor. Aku mencari sosoknya yang sering kulihat di timeline media sosialku.

“Astaga! Mungkin saja dia mengirimi aku pesan lewat email” Aku segera merogoh tas jinjingku dan membuka ponsel yang dua hari ini sedikit terabaikan karena keruh kerjaan. Untung masih bisa bernafas, di Bali pula.

-Lean, where are you, now? I’m at arrival local gate. Near local ticket payment. I’m waiting for you-

 Aku tertawa membaca riwayat chat nya. Ternyata dia rela jalan jauh-jauh dari pintu kedatangan internasional ke kedatangan lokal. Besar juga nyali bule itu, pikirku. Aku segera mencari keberadaannya.

Yeah, semoga ingatanku tidak salah. ‘ I’ll wear blue jacket and grey hat. See you, there, Lean’

  Aku mendapatinya sedang berdiri membelakangiku sekarang—sedang membaca Bali’s map diatas kursi tunggunya. Aku melihat ada satu ransel yang tidak begitu besar. Laki-laki memang tidak begitu ribet. Aku juga. Hanya membawa tas jinjing—tanpa baju ganti. Jangan bilang aku sinting. Aku tidak pernah bilang akan berlibur sebulan.

Kembali memperhatikan sosoknya. Topi abu-abu yang sangat keren menempel di kepalanya. Rambut yang hampir menyamai rambutku, sebahu. Tapi dia lebih pendek dan warnanya coklat gelap. Cukup menarik. Pandanganku jatuh pada jaket birunya. Hey, punggungnya lebar. Oh God. . .dia tinggi. Celana jeans gelap membungkus kaki jenjangnya. Damn! Sepatu kulitnya sangat mengganggu. Mengapa warnanya harus hitam? Ah, perfect style, Fashion du jour, yang dipatahkan oleh warna sepatu. Dan lagi! Dia harusnya menjadi idaman semua wanita—kalau saja dia bukan gay! Memperhatikan seorang gay yang begitu menarik didepanmu adalah euphoria tersendiri dalam hidup seorang single sepertiku.

Jangan berpikiran negatif aku bersamanya. Hey, apa salahnya berteman. Tidak ada yang salah dengan mereka. Kalian tahu, pada awal kesadarannya tentang keanehan dalam dirinya, Jin Ae bahkan marah kepadaku karena aku tak memarahinya justru mendukungnya, itu sekitar dua tahun lalu dia mengatakan padaku. Dia mengatakan aku gila pada waktu itu. Tapi aku terus menyadarkannya bahwa dia bisa memperbaiki dirinya dengan membuka hati. Setelah jeda waktu yang lama, akhirnya dia luluh. Dan kembali berteman denganku. Kalian harus menggarisbawahi, pertemanan kami sudah terjalin sejak 3 tahun lalu—dalam dunia maya. Kita berdua menyebutnya digital friendship.

Aku berjalan mendekatinya. Aku berdoa semoga dia tidak segera membalikkan tubuhnya. Sial. Dia berbalik. Tepat menghadap kearahku yang masih dalam jarak sekitar sepuluh kaki. Dia tersenyum. Oh oh why! He is so cool! Super cool! His lips! His eyes! Tidak begitu sipit. Rahang tajamnya akan meruntuhkan pendirianmu. Astaga otakku rasanya remuk redam. ‘Sadar sadar dia tidak tertarik pada cewek’ aku mencoba men-sugesti diriku.

“Hi, Jin Ae. I’m Lean.” Dia masih tersenyum, mengamatiku. Tidak menjawab salamku di jarak sepuluh kaki. Aku masih membeku ditempatku. Dia memperhatikan dari ujung kepalaku sampai ujung kaki. Aku hanya berharap rambutku tidak berantakan seperti wanita yang jarang dibelai. Pandangannya semakin turun. Aku berharap kravat di leherku tidak dalam posisi miring. Terus turun. Aku berharap bajuku tidak menampakkan galambir di lengan dan lipatan perutku. Sial seribu sial. Dia mendekat. Ternyata teman maya itu sedikit menakutkan—apalagi bule. ‘ha ha ha’ aku menertawaiku kebodohan diriku.

Hi, Lean. Jin Ae. Nice to meet you.” Nada bicara yang baik. Kutebak dia sering berbicara dengan bahasa inggris. Dia mengulurkan tangannya. Kita berjabat tangan dan saling membalas senyum. Aku sudah lega sekarang. Ternyata dia bisa bicara seperti cowok normal. Bagaimana bisa dia gay? Pertanyaan itu muncul dikepalaku tiba-tiba. Eh, tunggu. Genggaman tangannya semakin erat. What? Dia menarikku kedalam pelukannya, aku terkejut. Hatiku berdegup. God, why? Aku sekarang seperti sebuah boneka yang sangat dirindukan pemiliknya. Tubuh tingginya membungkus tubuh mungilku dengan sedikit lemak di bagian tertentu—aku tidak akan memperjelas lagi.  Tidak lama, dan dia akhirnya melepaskanku.

Kita menuju penginapannya, menemaninya meletakkan ranselnya. Hanya menemani. Bahkan aku duduk diluar kamarnya. Di ruang tunggu penginapan. Dan kembali berbicara normal. Dia bertanya kepadaku beberapa tempat yang terlebih dahulu dia cari informasi tentang The Bay Bali. Aku memberitahunya banyak tentang Bali. Karena mama dulu pernah bekerja di Bali selama kurang lebih 7 tahun. Saat umurku masih 10-17 tahun. Aku SMP dan SMA di Bali. Aku cukup tahu tempat ini. Meski sudah 7 tahun tidak datang kemari. Jangan tanya kecantikannya, tak ada yang bisa mengalahkannya, warna Indonesia adalah Bay Bali.

“Apakah kamu akan lama? I would like to invite you to guide me around Bali.”

Tomorrow morning, I’ll come to Jakarta. ”

“Hah? Are you serious? Why so hasty?

“Karena pekerjaanku tidak bisa dengan mudah ditinggal, Jin Ae”

“Oh, Lean. Then you called it holiday?”

“Lalu kamu akan merasa lebih bersalah kalau melupakan anggaran belanja negara bukan?” Dia mengangguk menyetujui. Pekerjaanku memang berbeda dengannya. Dia adalah seorang potografer di salah satu majalah beken di negaranya. Tidak terikat jam dan hari. Dan hobinya adalah surfing.

“Ayo pergi. Kita habiskan hari ini berdua. We are meeting now! Don’t waste the time, Lean.” Aku tertawa. Dan dia segera mengambil kamera dalam ranselnya. Kemudian kita memulai perjalanan hari ini. Dua orang asing yang bertemu. Menghabiskan hari bersama.

Aku memutuskan untuk mengajaknya ke pantai Sindhu, dekat dengan pantai Sanur, aku yakin perutnya sudah berteriak-teriak. Kita menyetop taksi dekat penginapannya yang hanya beberapa menit dari bandara. Taksi itu melaju dengan cepat, sekitar 27 menit kemudian kita sudah keluar dari taksi dan Jin Ae terlihat bahagia banyak warung yang menjual makanan Indonesiadan makanan khas Bali. Aku yakin salivanya akan segera menetes jika hanya berdiri melihat tidak segera memesannya.

Let’s grab the foods” Dia berjalan dan menyambar tanganku. Ya Tuhan, apakah benar dia memang tidak memiliki sedikitpun rasa itu pada wanita? Apakah hanya aku disini yang merasakan debar jantung karena dia kerap menyentuhku? Apakah hanya aku? Kenapa aku merasakan itu? Bukankah aku sudah mendengar dari mulutnya sendiri kalau dia adalah gay? Kenapa sekarang aku mengharapkan lebih? Well. Aku tidak mengatakan aku jatuh cinta padanya, No. But, this feeling is just an euphoria. Cz, love will not grew at first sight just because ‘he is cute, he is make me comfort, he can make me laugh all the time. Is he crazy or something?’ Yah maksudku kenapa laki-laki yang bersamaku ini tidak merasa risih dengan orang baru? Apakah mereka memang seperti itu? Oke kita skip saja pertanyaanku ini.

Kini dia sedang duduk dihadapanku dengan beberapa piring didepannya. Kita menghabiskan jam sarapan di Luhtu’s Coffee Shop yang menyediakan aneka makanan Indonesia, makanan khas Bali dan Western. Jin Ae sudah mengahbiskan rock-cappucino, Ayam Betutu, dan Nasi Jenggo. Kemudian dia mengarahkan tatapannya padaku yang duduk didepannya. Aku mengalihkannya dengan segera menyeruput latte panasku.

Don’t you want to ask me something?” Yang ada di otakku tentang kalimatnya barusan adalah ‘Apakah kamu tidak ingin menanyakan kisah cintaku bersama pacar laki-laki ku?’ namun aku segera menepisnya dan membalas pertanyaannya dengan senyuman.

“Eh, do you have a girlfriend? I’m sorry for this kind of question.” Aku menanyakannya ragu, karena aku keburu penasaran dengan kehidupannya. Apakah dua tahun akan mengubahnya yang belok menjadi laki-laki straight yang akan mencintai gadis asing yang ditatapnya kali ini? Aku menertawai diriku dalam kepalaku. “No!” dia menjawab singkat, aku kemudian kembali menyeruput kopiku untuk membuat diriku sendiri merasa lega. Kemudian dia melanjutkan jawabannya. “But, I’ve a boyfriend…” Seketika aku tersedak dan batuk-batuk, serius. Tersedak dalam arti nyata bukan pura-pura tersedak. Jin Ae bukan memberiku air atau semacamnya justru tertawa di tempatnya. Kemudian aku berlari ke meja kasir meminta air pada ‘bli’ yang sedang menjaga kasir kemudian memberiku segelas air putih. Dan Jin Ae masih duduk manis di kursinya.

 “Is there any stranger that laughing at me?” Jin Ae masih tergelak di kursinya. Aku kembali duduk didepannya dengan menghabiskan segelar air putihku.

“Bagaimana? Sudah baik?” Aku mengangguk. “I have thought that you will be surprise like before, but unfortunately I’m a single.” Aku langsung membelalakkan mataku padanya, tanpa aku bertanya ‘Really?’ Jin Ae sudah mengerti maksudku. “Itu dua tahun lalu Lean, I think it all just an euphoria. And you always cheer me up by chat, it was made me calm down. Even I was never replied it for a year. I’m sorry, Lean.” Aku memperhatikannya lamat-lamat, bercampur aroma kamboja dari pelataran café yang merebak masuk kedalam, sungguh wangi Bay Bali.

An euphoria?. Yah orang yang bisa mengendalikan diri kamu adalah kamu sendiri, bukan sahabat atau siapapun. Karena yang paling mengerti dirimu adalah diri kamu.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan yang merusak suasana indah Bay Bali ini. Dia mengangguk, mungkin menyetujuiku. Akhirnya kita memutuskan untuk meninggalkan cafe dan pergi ke Pasar Sindhu. Aku asyik dengan langkahku dan Jin Ae asyik dengan kameranya. Aku tahu dia akan mencintai pulau dewata ini Bay Bali.

Dan Jin Ae benar-benar tidak bercanda dengan kalimatnya ‘We are meeting now! Don’t waste the time, Lean’. Kalian pasti akan tahu tidak akan cukup waktu seminggupun untuk mengelilingi keindahan Bay Bali with its awesome sides. Bahkan sekarang, aku sedang makan malam dengannya. We are like in blind date. Romantic dinner with someone special that you want the most. Dia menarikkanku kursi dan wajahnya tersipu malu.Aku menundukkan wajahku agar dia tidak menangkap wajahku yang sudah menjadi kepiting rebus. There is other surprise which I never thought before. Jin Ae menyuapiku dengan potongan udang bakar dan kalian tahu kita sedang makan malam dimana? Di Pantai Sanur. Memang aku yang mengatakan ada tempat makan yang enak sambil menikmati sunset. But this is too sweet to call ‘usual dinner’.Langit jingga yang pandai mencuri hati penikmatnya. Langit merah muda yang selalu pandai membuat hati berbunga-bunga. Tak seorangpun akan kecewa makan malam di tepian Pantai Sanur. Begitupun denganku. Dengan kursi yang saling berhadapan dan saling memandang dengan sentuhan hangat sisa-sisa matahari dan semilir angin pantai akan memabukkan siapapun saat makan malam romantis seperti ini. Oh God, I just want to say that I’m really happy now.

Do you like it, Lean?

“Yah, but… what kind of this dinner?

“Hah? What do you think ‘bout this? Is there any special? I hope you feel the same.”

Semuanya berawal dari malam ini, dia bertingkah semakin aneh, semakin menempel padaku dan aku bukan tidak marah justru muncul perasaan nyaman. Rasa bahagia yang aku inginkan bukan perkataan ‘aku mencintaimu’ ‘aku ingin selamanya denganmu’ ‘kamu yang membuatku tak bisa bernafas dengan benar dan menganggu tidurku, karena aku hanya memikirkanmu’ tetapi perlakuan apa adanya yang kamu dapat tanpa meminta. Meski aku tahu perasaan ini akan segera berakhir. Apakah tidak ada salahnya menikmati kebahagiaan yang tak akan pernah kulupakan di masa tuaku kelak. Aku bersumpah ini adalah cerita manisku di Bali. Pulau Cinta dan Kasih Sayang, pulau kebahagiaan, penyambung rindu lewat sunset dan pembawa mimpi baik lewat sunrise. I’m happy.

Minggu. . .

Pagi ini aku akan berangkat ke bandara, aku sibuk berbincang dengan cermin menannyakan apakah perasaanku hanya sesaat ataukah kekaguman yang terbalas? Aku diam tak menjawab pertanyaan didalam cermin. Aku menginagtnya semalam Jin Ae mengantarku pulang, ke rumahku dulu, karena bukan hal yang mungkin aku bermalam di penginapannya, aku tidak semengerikan itu. Rumahku ini sekarang dikontrakkan kepada teman mama, aku menumpang tidur.

“Lean, kamu sudah bangun?” Terdengar tante Kanya mengetuk pintu kamar, aku bergegas merapikan rambut dan membukakan pintu.

“Ah tante, Iya. Lean sebentar lagi akan berangkat ke bandara.” Tante Kanya tersenyum dan melanjutkan kalimatnya. “Ada teman kamu diluar sedang menunggu kamu.” Aku mengeryitkan dahi, siapa? Akhirnya aku dengan cepat melangkah ke teras. Dan wow, Jin Ae sudah berdiri dengan anggun mengagumkan di depan pintu, oh aku terpana dengan keberadaannya.

I just sent you a message but why you didn’t reply? I would like to accompany you to airport. Is it oke?” ‘Aku tidak memperhatikan ponselku pagi tadi karena sibuk memikirkanmu’ tapi aku hanya mengatakannya dalam hati. Akhirnya aku hanya meminta maaf pasrah. Aku tentu tidak masalah dia akan mengantarkan aku pulang. Bukankah kita akan berpisah. Berakhir pula euphoria rasa antara aku dan dia. Dia akan bertemu orang baru begitupun aku. Jika memang suatu saat jalan Tuhan mempertemukanku dengannya kembali, aku tidak akan menolaknya. Tapi tak tahu apa yang akan terjadi nanti, Tuhan punya cara yang lebih indah dari rencana manusia. Seperti pula rencanaku ke Bali, tak akan seindah ini tanpa campur tangan Tuhan. So, Thank God.

At Airport. . .

Kali ini aku merasa berat untuk berpisah dengannya, sungguh waktu yang sangat singkat. What should I do? It is just an euphoria. Aku memeluk Jin Ae untuk salam perpisahan, dia adalah teman dunia maya terbaikku, teman yang baik di Bali. Pemerhati wanita. Laki-laki yang menawan. Dia membalas pelukanku, semakin erat. Kusesap aroma tubuhnya yang akan kurindukan entah untuk berapa lama, aku tak akan pernah tahu. Dia melepas pelukan dan kemudian semuanya menjadi gelap saat bibir ini tak tahu lagi akan dibawa kemana. Ngurah Rai tak pernah seindah ini sebelumnya, aku masih terpejam dengan salam perpisahan yang kurasa sangat manis ini. Ngurah Rai bukan hanya tempat pertemuan tapi tempat perpisahanku dengannya, keduanya adalah kebahagiaan untukku.

Aku tersenyum berpisah dengannya, menyisakan kenangan manis dengannya di Bay Bali.

I won’t forget this in my future, Lean. My shortest Love. My shortest happiness. My shortness forever. My euphoria. This is cute.” Dia menyerahkan foto yang dia dapatkan selama di Bay Bali. Aku merasa terharu. Ada satu foto dengannya, cukup manis dengan lembut pasir pantai Sanur disekeliling meja kursi kita, serta siluet senja yang cantik.

I won’t forget it too. Jin Ae, for all your sweet things. I was into it. And the kiss, cute.” Kita berdua hanya saling tertawa dan melambaikan tangan satu sama lain.

 

 Life is only come once, do it right and you’ll get your happiness. Happiness isn’t about togetherness only, but feel what you call desire is smile inside you.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

@dafayuvi

Gadis kelahiran Bojonegoro, 12 Februari 1995. Gadis yang suka membaca buku, menulis, dan mendengarkan musik. Gadis yang selalu berkencan dengan diri sendiri. Begitu menyukai aroma parfum dan kopi. Buku-parfum-kopi adalah muse baginya.

 

Advertisements