Love, God’s Way to Perfect

Image

William Hartanto, pemuda yang bekerja sebagai manager pemasaran yang sangatlah menghargai pekerjaannya. Mempunyai kekasih yang sangat mendukung pekerjaannya. Sangat kasih sayang juga mencintainya. Hingga suatu saat terjadi musibah dalam hubungan mereka, dan semuanya berubah.

Naomi Widyana, gadis cantik dan baik. Mempunyai bisnis kecil-kecilan di cafe, sembari melanjutkan kuliahnya di bisnis. Gadis mandiri yang sangat percaya dengan kekasihnya (Willy). Hingga suatu saat ada musibah yang menerpa hubungan mereka. walaupun Naomi merasa berat, tapi itulah keputusannya.

William pagi itu berangkat lebih awal dari biasanya. Willy agak kecewa karena tidak bisa berangkat bersama Naomi. Naomi sangatlah mengerti dengan pekerjaan yang menuntut tanggung jawab seorang manager seperti kekasihnya.

Kring….kring…

Dering ponsel Naomi, diangkatlah oleh nya.

“Hallo, sayang.” Jawab Naomi yang sedang bercermin yang menampangkan senyumnya.

“Sayang, (diam beberapa detik) aku minta maaf. Aku sayang kamu.”

“Hehe, aku juga lebih sayang kamu”

“Suaramu berikan semangat untukku sayang, aku sangat menyayangimu. Terimakasih.”

“Terimakasih juga sayang. Sudahlah, konsentrasi kerja sana.”

“Oke, bye bye”

Tut….tut… nada terputus.

Hubungan mereka sangatlah tenteram. Bahkan membuat teman dan sahabat mereka merasa iri.

Beberapa minggu kemudian, Willy ditugaskan untuk mengkoordinir barang yang ada diluar kota. Willy sangat berat meninggalkan Naomi.

Diperjalanan Willy berbincang-bincang dengan salah seorang temannya. Bernama John.

“Will, kau tidak bosan pacaran dengan gadis cupu-mu itu?”

“Hah? Apa maksudmu John? Konyol sekali. Aku sayang dengannya.”

“Sayang kau bilang? Laki-laki itu butuh yang kedua kali. Yang lebih cantik dan sexy dari pacarmu yang sekarang ini”

William seperti tertarik dengan kata-kata John yang terdengar menggiurkan itu.

“Tapi, aku tak ingin khianat dengan Naomi. Tak ingin permainkan hubungan yang tak pernah salah ini John.”

“Hah, sok banget kata-kata kamu. Tapi kau mau coba kan?”

“Tapi hanya untuk seminggu itu yah.”

“Hah? Kau setuju dengan ideku yang cerdas ini? Dasar buaya”

“Kau juga buaya. Dasar gila!”

Senyuman menyindir tersungging di bibir keduanya. Laki-laki macam apa itu? Berani-beraninya mempermainkan cinta.

Sesampainya ditempat tujuan, mereka terlalu bersemangat dengan pekerjaannya. Hingga malam, mereka tak sadar telah bekerja seharian. Malam itu, mereka memutuskan untuk jalan-jalan menikmati malam. Di taman kota, banyak  gerombolan gadis yang sedang berbincang-bincang. Bisa dibayangkan bagaimana gadis yang berkeliaran malam-malam, menggunakan pakaian seadanya dengan make-up tebal. John dan Willy saling memandang…

“Kau gila? Aku tak mau bermain-main dengan gadis malam seperti mereka” jawab Willy acuh.

John meng-iya kan saja kata-kata Willy.

“Oke! bagaimana dengan gadis dikantor bos kita di cabang kota ini?” jawab John enteng.

Keesokan Harinya, Willy bertemu gadis yang dia rasa cocok dan baik pula. Willy mendekati gadis yang bernama Ineke itu dua hari. Akhirnya mereka menjalin hubungan yang disebut pacaran. Yah, walaupun Willy menyebutnya hanya ‘main-main’.

Willy sangat merasa bersalah, dan setiap pagi selalu meminta maaf kepada Naomi. Sekembalinya William dari kota itu, bukannya mengakhirihubungannya melainkan, semakin merasa nyaman dengan gadis itu. Ineke selalu menghubungi Willy begitupun sebaliknya.

Naomi merasa ada yang berubah dengan Willy. Willy lebih intens dengan gadgetnya setelah pulang dari tugasnya diluar kota. Namun, Naomi tak mengindahkan perasaannya yang tak baik itu.

“Sayang, aku minggu depan ada outing dengan Maolin.”

“Oh, berapa lama? Kamu jaga kesehatan ya?”

Naomi merasa aneh, tidak seperti biasanya. Biasanya, Willy akan mencoba melarang Naomi untuk pergi.

“Iya, aku akan outing selama 3 hari. Kamu jangan rindu ya..”

“Oh, iya.” hanya itu jawaban dari mulut Willy.

Jantung Naomi berdetak cepat menanggapi pertanyaan dalam hatinya.

Willy sudah mulai menaruh rasa pada Ineke. Dan sedikit demi sedikit telah berkhianat dengan cinta sucinya selama ini. Willy sudah tak pernah lagi menghubungi Naomi. Dan sering sekali menemui Ineke yang ada diluar kota yang tentu saja hal itu menambah pengeluaran bulanannya. Namun Willy tak pernah memikirkan hal itu sama sekali. Sering membelikan perhiasan untuk Ineke, membelikan pakaian, barang-barang brand terkenal dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sedangkan Naomi, dengan setia memandang ponselnya, tak biasanya selama sebulan terakhir Willy tak pernah mengucapkan selamat malam padanya-lagi. Bahkan rekan kerja Willy sudah memberi tahunya bahwa Willy sudah memiliki kekasih lain. Namun, Naomi tidak mengindahkan kalimat-kalimat dari mulut teman-teman Willy. Naomi tahu sekali bagaimana Willy?.

Ketika akhir bulan itu, Naomi pergi outing bersama Maolin. Dan Willy sama sekali tak memberi salam perpisahan untuk Naomi. Naomi merasa sudah tidak ada harapan mengenai hubungannya dengan Willy. Bahkan Willy pun tidak tahu Naomi mengadakan outing dimana. Naomi pergi ke Bali. Pulau sejuk yang memang cocok untuk tempat melepaskan penat. Disana Naomi melupakan sejenak tentang kisah cintanya yang semakin rapuh. Juga ingin mengurangi rasa sakit mendengar cemooh tentang Willy dari mulut teman-teman Willy sendiri.

Saat hari terakhir di Bali, Naomi pergi ke pusat Bali. Saat itu mentari tidak secerah biasanya, agak mendung. Namun itu sangat mendukung sekali hari terakhir pengamatan mereka tentang Bali kala itu. Karena mereka akan mengunjungi taman bunga yang teramat indah ditengah kota.

Sesampainya di Taman itu, banyak sekali pasangan muda-mudi yang ada disana. Hal yang sebenarnya membuat iri di pikiran Naomi.

“Naomi, mungkin kalau kau kesini bersama Willy, pasti akan seperti mereka juga” kata Maolin, salah satu teman Naomi yang mendukung hubungan Naomi dengan Willy.

Naomi yang saat itu sedang melamun, seketika tersadar

“…hah?” hanya itu yang diucapkan Naomi, dia masih membenarkan kelamut dipikirannya.

“Kau! (Maolin memperjelas suaranya), jika kesini dengan,,,” belum usai Maolin berbicara dipotong oleh Naomi

“Waaah, bunganya indah sekali. Cantik. Rasanya seperti di surga.” Naomi mengalihkan pembicaraan.

“Hahaha.  Kau itu! Biasa saja, deh.” ucap Maolin sambil menoleh kemana-mana. Dan dia sepertinya melihat seseorang yang dikenalinya.

“Namm, sepertinya aku melihat seseorang. (mengarahkan pandangannya ke sosok di ujung taman) itu Willy bukan?” ucapnya dengan pandangan menyelidik dan suara yang diperkecil seperti sedang mengintai.

Naomi semakin tak percaya, sepertinya memang Willy.  Sedang apa disana bersama gadis lain? hatinya seperti teriris, tertusuk pisau belati yang usai diasah berjam-jam lamanya. Naomi berjalan gontai mendekati Willy. Maolin terdiam di tempat dengan perasaan yang gugup.

Naomi seperti tak tahu harus berbuat apa? Melihat kekasihnya memeluk gadis lain dengan begitu mesranya. Naomi semakin mendekati Willy. Dan benar.

“Willy? Kau disini? Dia kekasihmu?” dengan pandangan nanar tak disangka Naomi bukannya marah melainkan,  mengucapkan kata yang jelas akan membuatnya menangis. Karena memang benar dia adalah Willy. ‘Kekasihnya? Yang ia banggakan sebagai laki-laki setia? Sekarang khianat dengan cintanya? Memeluk wanita lain? Hal yang disebut selingkuh oleh kebanyakan manusia heterogen?’ itulah yang berkecamuk dalam otak Naomi.

Gadis itu menoleh ke Naomi, dan berucap

“Kau temannya kekasihku?” dengan bangganya Ineke mengucapkan kaliamt itu di depan Naomi.

Willy yang melihat itu terkejut, tapi tak merasa berdosa sama sekali. Justru menjawab.

“Dia rekan kerjaku sayang” memandang Ineke. Bukan menjawab pada Naomi. Menyakitkan sekali. Saat itu juga Naomi pergi dari situ. Setelah beberapa langkah, Willy menyusul Naomi dan meninggalkan Ineke sebentar.

“Naomi, aku minta ma’af!”

“Apa? (Naomi matanya berkaca-kaca) kau meminta maaf? Hah! Untuk apa?”

“Aku benar-benar Minta maaf!”

“Hanya itu yang kau ucapkan! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa! Cukup sakit kau hianati! Nikmati hidupmu. Jangan kau harapkan aku kembali padamu. CAMKAN, aaaku…! (air matanya menetes)” segera Naomi melenggang pergi meninggalkan Willy dan berlari ke Maolin. Dan menyeret Maolin untuk pergi dari situ. Maolin menatap tajam wajah Willy, menyimpan dendam pada Willy yang membuat Naomi menangis.

Didalam mobil yang mereka sewa. Maolin tak ingin menanyakan apapun pada Naomi. Dia sudah tahu apa yang dialami sahabatnya kini. Namun, Naomi sendiri lah yang memulai pembicaraan.

“Aku tidak ingin menangisinya! Hiks hiks” dengan mata yang semakin sembab dan memerah, Naomi menundukkan kepala dan menangis semakin sesenggukkan.

“Lalu? Yang kau lakukan sekarang apa?” gerutu Maolin tak tega memarahi sahabatnya itu.

“Aku masih terlalu terkejut”

“Ciih, buat apa kau tangisi? Lihatlah matahari ikut menangis melihatmu.”  Seketika mendung yang menggantung dari tadi ikut menumpahkan kekesalannya.

“Huu.. huu…”

Naomi sangat terpukul dengan berakhirnya hubungannya dengan Willy, berakhir dengan miris. Orang tua Naomi tidaklah menanyakan hal itu pada Naomi. Anaknya perlu menenangkan diri. Mereka memberi pengertian kepada Naomi.

Willy setelah kembali dari Bali, tak disangka Maolin datang kerumahnya. Disaksikan oleh mama Willy, Maolin berteriak-teriak memaki Willy dengan lantang dan penuh kemarahan.

“Dasar baji*****n! Tak tahu malu. Tega kau menduakan Naomi. Enyah kau dari kehidupan Naomi. Dia sangat terpukul. Laki-laki tak punya hati. Dasar sinting. Kau taruh dimana otakmu?!” Maolin mengatur nafasnya. Hal itu terdengar jelas oleh mama Willy.

“*PLAK*, ini untuk sakitnya Naomi.(Beranjak pergi dan kembali lagi) *PLAK*, ini dariku karena kecewa dan malu pernah mengenalmu!” Willy yang mendapati hanya diam mematung. Seperti mengakui bahwa dia memang bersalah.

Maolin pergi tanpa pamit. Dan mama Willy berteriak

“Berhenti Maolin”

Maolin terkejut,

“Kau saksikan ini untuk Naomi” tak menyangka

“*PLAK*!” mama Willy menampar Willy keras dengan muka memerah.

“Kau boleh pulang Maolin”

“Terimakasih tante.” Beranjak pergi dan enyah dari kediaman Willy.

Mamanya menatap tangannya usai menampar Willy. Melangkah pergi meninggalkan Willy disana sendiri. Willy merenung. Bahkan tangan lembut mamanya ikut memberi tamparan kepadanya. Betapa jahatnya Willy ‘Tuhan apakah aku begitu jahat?’ batinnya.

“Begitu jahatkah aku? Naomi? Gadisku yang telah dengan jelas melihatku mendua? Aku melihat sendiri cintaku berkhianat! Aku sendiri yang berkhianat!” Willy bergumam dengan pipi yang tampak memar sedikit merah.

Sedikit demi sedikit, penyesalan itu datang kepada Willy.

Willy tetap menjalani hubungannya dengan Ineke, sering lalai dari tugasnya. Sering tidak tepat dengan targetnya. Bahkan sangat tidak tepat waktu datang ke kantor. Menyesalkan sekali melihat sosok manager yang membusuk.

Akhirnya, keputusan tegas diambil oleh direktur utama perusahaan itu untuk memecat William Hartanto.  Betapa tragisnya hidupnya kini? Dan berita itu terdengar di telinga Ineke. Tanpa pikir panjang Ineke meninggalkannya setelah sekian lama bersama Willy. Menikmati uang yang didapat Willy. Ternyata Ineke sekarang pergi meninggalkan Willy disaat Willy butuh penopang dalam hidupnya. Pergi dengan laki-laki lain yang lebih menjanjikan daripada laki-laki pengangguran seperti Willy. Takdir yang menydihkan untuk Willy.

Disisi lain, Naomi bangkit dengan jiwa bisnisnya. Bisnisnya melenggang sampai kepenjuru negeri. Bisnis café yang digelutinya membuka cabang dibanyak kota. Bangkit menjadi wanita karir yang sukses. Mengenal banyak teman yang baik dengannya. Dekat dengan seorang rekan yang selalu ada disampingnya.

Setelah dua tahun menutup diri. Naomi kini telah bertunangan dengan seorang pengusaha muda yang juga bergelut di lingkup yang sepaham dengannya. Naomi memberi sisa cinta dan kasih sayangnya kepada calon suaminya kini. Rasa cintanya tak bisa hilang dari sosok Willy yang berusaha dia pendam dalam-dalam. Tapi tidaklah semudah itu.

Berlawanan dengan kondisi Willy. Semenjak satu tahun yang lalu hanya terbaring di bed cover. Karena Willy terkejut dengan pemecatan dirinya dan penghianatan oleh Ineke, serta ketidakpedulian mamanya membautnya tidak menjaga kesehatan dan jatuh sakit. Hanya menanti keajaiban untuk sembuh. Karena sangat terpuruk, kehilangan Naomi, kehilangan pekerjaan, dan juga mamanya tidak memberi perhatian yang lebih padanya. Papanya lah yang mengurusnya, dengan menyewa suster pengasuh untuk Willy. Seperti pasien lumpuh yang tak inginkan bicara sama sekali. Hanya sanggup menyebut nama, satu nama. . .

“Naomi, Naomi” itulah yang keluar dari mulutnya. Mamanya sangatlah tak tega melihat anaknya seperti itu.  Tanpa sepengetahuan siapapun, Mama Willy pergi kerumah Naomi. Naomi yang saat itu dirumah dengan mamanya terkejut melihat kedatangan mantan calon mertuanya.

“Tante? Silahkan duduk.”

Mama Naomi juga mempersilahkannya.

“Naomi maafkanlah Willy. Sekarang dia lumpuh. Tidak pernah bicara.” Meneteskan air mata yang selama ini ia simpan. Mama Naomi mendekati mama Willy. Merangkul pundaknya tenang. Dan melanjutkan kata-katanya.

“Willy hanya menyebut namamu. Bukan yang lain. Bahkan melihat kami seolah enggan. Dia tak pernah melihat apapun selain poto milikmu. Tante tak tahu harus berbuat apa?” Mama Naomi memeluknya. Juga seakan ikut merasakan kesedihan itu. Ikut menangislah mereka. Justru Naomi lah yang paling tegar. Mungkin dia telah memaafkan Willy. Dan juga telah mempunyai seseorang yang mengobati sedikit lukanya.

“Naomi akan menemuinya tante. Aku akan kesana.” Kedua wanita didepannya terkejut mendengar kalimat Naomi.

“Huu huu, Naomi? Hiks, terimakasih sayang” menangis haru dan menatap lega kearah mama Naomi. Mama Naomi hanya mengangguk mengiyakan tindakan Naomi. Saat itu juga Naomi pamit kepada mamanya.

“Ma, Naomi  berangkat.”

“Bangkitlah sayang. Matahari telah bersinar, mama Tahu Naomi gadis mama yang kuat.”

Naomi naik taksi bersama Mamanya Willy.

Sesampainya disana.

Naomi menutup mulutnya yang tebuka karena terkejut melihat kondisi Willy yang jauh dari normal. Seperti pasien kelainan jiwa. Tragis sekali. Tubuhnya kurus. Kulitnya putih pasi karena kekurangan cahaya matahari secara langsung. Willy hanya berdiam di kamar, jendela yang sayu tak pernah dibuka.

Naomi mendekati Willy, Willy menatapnya takjub. Perlahan tersenyum. Memanggil nama Naomi

“Naomi Sayang” memanggil nama Naomi seperti mengeja (Na-o-mi, sa-yang) dan kemudian meneteskan air mata. Hati Naomi benar-benar bergetar mendengar kata itu. namun Naomi tidak menampakkan kesedihannya. Naomi menghapus bulir yang jatuh dipipi Wlilly.

“Kau jangan menangis, tidak boleh. Aku disini untukmu” Mama Willy yang melihat hal itu merasa terharu, sedih. Sangatlah miris.

Berawal dari hari itu, Naomi setiap hari datang. Membelikannya kursi roda. Mengajak Willy jalan-jalan ke taman belakang. Mengajak ke jalan kompleks depan rumahnya. Menyambut Ayahnya sepulang kantor. Hal yang perlahan membuat Willy mau tersenyum dan berbicara walau hanya,

“Naomi. Dimana?” hanya sebatas itu. Terlalu lama terdiam membuatnya banyak melamun.

Naomi tidak memberikan rasa cintanya, hanya kasih dan sedikit sayang. Juga mengenalkan calon suaminya kepada Willy. Walaupun Willy yang awalnya marah dengan Naomi, namun Willy mencoba mengerti dengan mengucapkan,

“Naomi, bahagia” dan tersenyum menatap calon suami Naomi. Namun hal itu yang semakin sering membuat Willy menangis. Namun, Naomi mengerti itu.

Semakin lama, Naomi semakin melatih motoriknya agar bersedia untuk bergerak. Mencoba berjalan dengan tongkat yang berkaki lima di kedua tangannya, seperti bayi. ‘Naomi seperti suster yang Tuhan kirim untukku. Membuatku kembali ke jalan Tuhan. Membuatku bangkit, membuatku bangun dari keterpurukan, dan menunjukkan jalan keluar dari ketersesatanku selama ini’ batin Willy.

Semuanya berjalan seperti adanya, Naomi menikah dengan Suaminya yang bernama Nadho. Willy tersenyum di kursi roda. Menatap mereka bangga, dan mengacungkan jempol. Membuat pasangan pengantin baru itu terharu dan menangis memeluk Willy bersam-sama. Willy juga menangis. Willy merasa dialah orang yang paling menderita dan orang yang paling beruntung.

Willy merasa menderita kerana, penyebab dirinya terjatuh dan tenggelam adalah dirinya sendiri, keegoisan dalam diri manusialah yang menyebabkannya menderita. Mengedepankan nafsu daripada kata hati yang meronta kesakitan. Willy sangat menyesal. Yah, menyesal memang selalu datang di akhir. Cintanya yang pedih dan menykitkan. Karena sampai saat ini Willy masih mmbutuhkan Naomi yang telah menjadi istri orang.

Willy merasa sangat beruntung karena, dia merasa beruntung bisa mencintai bidadari secantik Naomi, sebaik  Naomi yang sempat menjadi miliknya. Dan sampai saat ini pun Willy tetap mencintai Naomi, walaupun itu bukan rahasia lagi. Naomi juga tahu hal itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Memang benar Tuhan tak pernah tidur, disaat aku dibutakan oleh dunia. Cambukkan keras datang  dalam hidupku. Membuatku terbangun dari mimpi buruk yang telah membuatku merana. Membuatku sadar, bahwa cinta dan kasih sayang suci tak akan kau dapat dari cara buruk dan niatan yang buruk. Cinta suci itu datang dari dalam hati, bukan karena permainan belaka. Membuatku semakin membuka mata, bahwa hidup memang akan terus berputar. Balasan dari apa yang kita lakukan dimasa lalu akan teramat pedih dari rasa yang sebenarnya. Sungguhlah sakit. Jauhilah keinginan bodoh dalam dirimu untuk hal yang kau anggak permainan indah malah akan datangkan bencana besar dalam hidupmu. Berhati-hatilah tatkala melangkah. Banya duri tajam yang mengintai. Mata elang yang mengancam tak segan-segan akan menerkammu perlahan seiring membusuknya langkah dalam dirimu. Tuhan selalu ada untuk hambanya yang inginkan hadirnya.

Aku yang selalu merasa hidupku sudah tak berguna lagi setelah meninggalkan Naomi, semuanya salah. Aku yang sudah terjatuh dan teramat sulit untuk bangkit, tak pernah mengira akan bisa berdiri. Aku sudah tenggelam dalam kubangan kesalahan kelabu yang mengungkung jiwa raga, tak pernah terpikir akan bisa tersenyum lagi. Aku sudah tersesat, bahkan tak tahu kemana arah jalan kembali? Tak pernah terlintas dalam akal akan menemukan jalan pulang.

Cahaya cinta Naomi lah yang membawaku kembali berdiri, tersenyum, dan kembali dijalan yang luar biasa indahnya. Kembali menghargai hidup yang 2 tahun telah ku sia-siakan. Kembali tersenyum melihat cintamu bahagia karena cinta yang ia pilih. Dan terlepas dari penjara bawah tanah yang gelap gulita. Itu adalah perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan untaian kata.

Dengarlah isi hatiku untukmu, bila cinta tak menyatukan kita, bila kita tak mungkin bersama, ijinkan aku untuk tetap selalu memberi sayangku kepadamu, dengan caraku.

 

Itu adalah ketikan tangan Willy setelah dia menapak hidup barunya sebagai laki-laki yang mendedikasikan hidupnya untuk panti asuhan yang papanya urus. Hingga usianya menginjak 50 tahun, Willy sama sekali tak ingin memadukan cinta. Dia sudah menerima keadaan, dengan kondisnya sekarang yang tak se-sempurna dulu. Willy tak bisa berjalan normal, dan pandangannya sering kosong. Sendiri menjadi pilihannya. Bahkan, Naomi mempunyai gadis-gadis cantik buah cintanya dengan Nadho, suaminya. Willy sangat senang dengan itu, Willy sering bermain dengan anak-anak Naomi. Willy menyayangi anak-anak Naomi.

Kehidupan yang Tuhan atur sedemikian rupa hingga menjadi alur rumit yang sederhana.

***********************************

END

Advertisements

LOVING YOU

ImageAku adalah seorang penggila kencan. Jangan salah paham. Kencan yang sering kulakukan adalah kencan seorang diri. Pergi ke tempat yang indah, mengerikan, menenangkan, bahkan ke gunung sekalipun, seorang diri. Itu adalah surga yang diberi Tuhan di dunia ini. Aku pergi kepantai sendiri—bahkan berenang sendiri. Yah, meski tanpa ditanya, dipantai banyak orang yang akan berenang dan menemaniku meriuhkan air asin laut. Aku pergi ke gunung sendiri—kedinginan seorang diri didalam tenda kecil yang masuk peralatan berkemah. Jangan ditanya lagi, banyak yang memutuskan untuk menghabiskan liburan tahun baru di gunung, hanya aku sendirian didalam tenda yang kubangun dengan tanganku sendiri. Lalu apakah aku iri pada mereka yang sedang bergandengan di pantai, digunung, di laut, dan mereka lewat didepan kedua mataku? Jangan bercanda! Tentu saja aku iri. Karena diluar sana banyak yang mengatakan cinta itu sesuatu yang lembut, membahagiakan, dan akan selalu membuat harimu berbunga-bunga.

Demi Tuhan aku penasaran. Lalu kenapa aku tidak kencan? Kalian pikir mudah jantuh cinta? Aku masih sulit untuk jatuh cinta, terakhir kali aku jatuh cinta adalah saat usiaku 14 tahun, saat aku duduk di bangku kelas 8 sekolah menengah pertama—dengan teman sekelasku. Aku tidak berani mengungkapkannya, karena kudengar dia sudah mempunyai pacar. Sampai perasaan itu berakhir dan aku tidak ingat lagi kapan aku jatuh cinta lagi, kupikir belum (lagi).

Aku, Alena Kharis, umurku sudah tak muda lagi teman, 27 tahun. Aku seorang desainer disebuah perusahaan di kota tua ini.  Apakah kalian percaya bahwa aku belum pernah kencan? Tentu saja kalian akan tertawa. Tapi tenang, aku sudah memasukkan ‘jatuh cinta’ kedalam daftar kegiatan yang akan aku lakukan tahun ini, 2014, tahun kuda.

Hari ini ada peragaan busana di gedung peragaan, tempat dimana aku bekerja. Bukan, maksudku disalah satu ruangan besar di kantorku—mereka menyebutnya gedung peragaan. Kursi-kursi sudah tertata rapi di setiap sisi ruangan, dimana model akan berlenggak-lenggok di lantai bagai kanvas yang dilukis sesuka hati pelukis. Aku, salah satu desainer muda yang akan dengan berani menuangkan semua cat minyak dan segalanya keatas kanvas dan aku akan menggunakan kuas yang telah membentuk ruas jariku disana. Aku akan mengeluarkan gaun terindahku hari ini, 2 model kepercayaanku akan melakukannya untukku, aku percaya pada pesona mereka. Aku menyebut mereka muse, yang merupakan penginspirasi gaun-gaun indah buatanku.

Model yang pertama, Kristin namanya. Dia memakai gaun pendek dengan bahan satin silk dan aku melapisi permukaan satin cantik itu dengan sifon terbaik koleksiku, berwarna putih-transparan dan tetap memperlihatkan warna biru terang dari satin didalamnya, dengan perpaduan heels biru, sepadan dengan warna satin.  Model yang kedua, Riska namanya. Memakai gaun selutut tanpa lengan dari bahan denim dan rajutan kasmir (satu kelas di atas wol dengan kualitas tinggi) hingga betis. Kravat di lehernya akan membuat Riska semakin cantik dan memikat konsumer. Sepatu hitam dengan tumit yang runcing akan memperindah kaki jenjangnya.

Hari ini berjalan sedikit lambat dan dua gaun karyaku adalah ready to wear. Meskipun namaku belum banyak dikenal orang, tapi jangan salah, dua gaunku sekarang sedang dikenakan fashionista, aku yakin besok akan melihat beritanya di kolom majalah fashion paling depan.

Aku menghelas nafas lega, dan meninggalkan gedung peragaan, setelah setengah jam lebih berbicara dengan Kristin dan Riska di backstage dan sudah berbicara pada beberapa majalah fashion lokal. Aku sedang berjalan cepat mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana jeans sebetis dan sepatu dengan hiasan gesper dikakiku. Ada lingkar hitam dimataku, diusiaku yang ke-28 tahun, hal ini sungguh menakutiku. Aku menyimpul rambut sebahuku menjadi ekor kuda.

“Ma? Alen pulang malam ya. Nanti Alen panasi sendiri bacon dan omlette-nya.” Aku masih terus berjalan menunduk memandangi sepatu kesayanganku, menuju mobilku di parkiran dan sesaat kemudian ponselku terpental, suara mamaku menghilang. Aku mendongak, aku terbelalak, ada laki-laki dengan tuxedo rapi dengan sepatu mengkilap menabrakku dan membuatku kehilangan ponselku. Aku sudah bersiap mendampratnya, dia sudah menunduk—aku mengikuti gerakannya, dia mengambil ponselku didepan kakinya kemudian menyerahkannya padaku. Telepon mama masih tersambung. Aku membatalkan mulutku untuk mengumpat didepan wajahnya. Tunggu, dia tampan dan jakunnya, oh God, dia sungguh mempesona. Aku menyukai wajahnya, rahangnya tegas ditambah rambut keriting yang menggoda. Menarik, aku menggarisbawahinya. Tidak untuk tuxedo dan sepatu mengkilapnya. Aku kurang menyukai laki-laki yang rapi, mereka kebanyakan playboy. Demi apa, dalam kondisi genting seperti ini aku masih sempat mendeskripsikan seperti apa laki-laki yang menabrakku.

“Lain kali, jalan pakai mata, bukan hanya pakai sepatu bergesper.” Sial! Laki-laki itu mencibirku dan  sepatu kesayanganku. Aku menggeram dan malah diam, dan sekarang laki-laki itu sudah meninggalkan perempuan menyedihkan yang usai dicibirnya. Aku besumpah tidak mau jatuh cinta padanya.

“Ma, maaf tadi ada katak bunting lewat.” Aku mengangguk mendengarkan suara mama di seberang telepon melupakan kejadian sialan barusan.

Kudengar dia memintamu berjalan pakai kaki bukannya sepatu bergesper. Ha ha ha kamu ada-ada saja, sayang. Mama mau jenguk adekmu di asrama. Bagaimana peragaan busananya?” Suara mama terdengar antusias, aku membalasnya riang. “Sukses besar, ma. Sudah dulu, aku butuh kopi dan makan siang” Aku tersenyum mendengar mama berkata ‘ya, sayang’ padaku. Mama memutus sambungan telepon. Aku memasukkan ponsel ke saku celanaku. Menoleh kebelakang, bayangan laki-laki keriting tadi sudah menghilang.

Kedai kopi terlihat ramai seperti biasanya. Aku memesan latte macchiato, kopi yang super fun rasanya. Dengan 7 iris tipis roti bakar rasa coklat disetiap permukaannya, terlihat sedikit gosong, aku sengaja memintanya gosong. Aku duduk di teras kedai, siang yang cukup sejuk untuk bulan penghujan ini, Februari ceria. Aku menyeruput kopi dari gelasku, dan memakan dua iris roti bersamaan, jangan khawatir, mulutku cukup elastis untuk mengunyahnya. Beberapa menit kemudian aku mencium parfum yang kusukai, Bvlgari Aqva bercampur dengan aroma kopi, aku mencari-cari darimana asalnya, tapi cukup banyak orang disini. Aku yakin tidak menciumnya didalam tadi saat memesan. Aroma yang penuh semangat, pikirku. Dan semakin dekat. Dan. . .sial, dia duduk didepanku. Memang tersisa satu kursi disamping dan satu didepanku. Satu meja tiga kursi. Laki-laki ber-tuxedo dan sepatu mengkilap. Laki-laki itu membawa breve dan pancake stroberi. Aku terbelalak dan masih menyisakan mulut menggembung penuh roti bakar didalamnya. Aku menunduk, dan segera menelan cepat rotiku.

“Menjijikkan. Bagaimana bisa gadis makan seperti itu?” Laki-laki itu lagi-lagi mencibirku.

“Apa pedulimu hah?” Kali ini aku berani menjawabnya. Aku tidak bisa menolak pesonanya, aku sepertinya sedang bercanda. Jantungku berdetak cepat. Ada apa ini? Apakah aku bercanda?

“Kau, gadis kaki bergesper, aku tidak mendapatkan kursi kosong. Jadi jaga tata kramamu saat makan, sebelum aku muntah melihat cara makanmu.” Aku terhenyak, mendapati ada laki-laki macam begini dan dia menghina gadis langsung dari mulutnya. Aku mengginggit bibir bawahku dan kembali menyantap makananku bringas.

“Hei, kau. Aku sudah memperingatkanmu.” Laki-laki itu hendak memukulku sebelum Nara datang. Dia teman perempuanku yang paling cantik yang pernah aku punya. Tapi dia adalah preman, tato disekujur tubuhnya. Laki-laki bertuxedo itu sedang ditahan lengan berototnya oleh Nara.

“Laki-laki macam apa kau hendak memukul gadisku” Nara menghinanya seraya melepas genggaman tangannya pada laki-laki itu. Aku yakin laki-laki itu sudah tidak nafsu menelan pancakenya. Melihat Nara dengan muka manis menggemaskan, tapi tubuhnya menyeramkan penuh dengan tato, aku memperhatikannya. Laki-laki itu tidak berkomentar. Mungkin tak mau mencari masalah.

“Aku ingin memesan baju yang cantik padamu” Nara kini telah duduk disampingku melupakan insiden barusan, aku menghentikan acara makanku. Aku mengamati dia—laki-laki bertuxedo memakan pancake dan menyeruput kopinya dengan cara yang sopan, aku penasaran dengannya. Aku ingin tahu siapa namanya. Tunggu, dia barusan menghinaku. Tidak, aku tidak mau mengenalnya. Tapi, dia menarik. Oh, hell! Jangan katakan aku sedang jatuh cinta pada laki-laki keriting didepanku ini. Aku mengabaikan kata-kata Nara. Sebelum dia mencubit lenganku.

“Aduh,” Aku menoleh pada Nara, aku mengangkap sepintas laki-laki itu melihatku saat aku mengaduh tapi dia tidak peduli lagi.

“Dengarkan aku, aku ingin baju yang mewah, cantik, panjang, tapi seksi. Dan itu harus buatanmu. Bulan depan aku menikaaaah.” Laki-laki didepanku tersedak—mungkin karena dia mendengarkan percakapan kami—dan buru-buru meminum kopinya. Tentu saja aku tahu Nara hendak menikah, tapi aku baru tahu menikahnya bulan depan. Nara menoleh, wajahnya menyumpahi laki-laki didepanku. Dia kembali menoleh padaku, aku tersenyum pada Nara.

“Selamat, Ra. Aku senang atas pernikahanmu.” Aku memeluk bahunya. Asal kalian tahu, pacar Nara adalah seorang anchorman. Seorang pembawa berita di stasiun tv lokal dan mereka saling mencintai, aku iri. Tak lama aku dan Nara berbincang, calon suaminya datang, namanya Redo. Laki-laki yang bersahaja, dia memakai kemeja panjang bergaris dengan celana jeans, perpaduan yang bagus. Aku selalu mengamati cara berpakaian orang-orang disekelilingku. Kecuali, Nara, dia sangat buruk. Memakai apapun yang dia suka.

Sekarang Nara sudah pergi, dia sebentar lagi akan benar-benar meninggalkanku bersama suaminya. Nara adalah sahabatku. Dan aku akan menjadi Alena yang kesepian. Aku tadi sengaja memintanya datang, ingin berbincang banyak dengannya, ternyata dia bersama Redo. Kita tinggal punya waktu sedikit, aku dan Nara. Aku sedih.

“Dia adalah sahabatku satu-satunya.” Aku berbicara sendiri. Entah laki-laki didepanku mendengarnya atau tidak, aku sekarang tidak peduli.

“Kau berbicara denganku?” Aku mengabaikannya. Aku sekarang menangis. Karena aku sebentar lagi akan kehilangan sahabatku, Nara.

“Aku akan kehilangan dia. hu hu hu” Demi apapun aku sekarang sedang menangis didepan laki-laki asing yang dari tadi selalu mencibirku. Sepertinya dia sadar aku adalah perempuan, yang bisa menangis, dan aku tahu laki-laki sangat tidak suka melihat perempuan manapun menangis. Untung saja pancakenya sudah habis. Kalau tidak mungkin dia akan melemparkannya ke wajahku.

Dia mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celananya. Aku menerimanya, parfumnya, God, Bvlgari Aqva. Aku menyesap wangi di sapu tangan abu-abu itu dan menutupi kedua mataku dengan seluruh permukaannya. Laki-laki itu sekarang sudah berpindah kesampingku. Memeluk bahuku.

“Aku tak mau orang-orang disini menganggapku laki-laki kurang ajar yang membuat anak gadis orang menangis. Kau harus segera diam.” Dia menenangkanku, aku tersenyum dan sedikit meredakan tangisku.

“Terimakasih dan maaf telah mengganggumu tadi.” Aku tidak bohong sekarang aku sedang berbicara dengan lembut dan jantungku memompa darah lebih cepat dari yang kubayangkan. Setelah aku berhenti dari tangisan, dia kembali ke kursinya.

“Namaku, Elon Pandu. Kita bisa jadi teman, karena kau sebentar lagi kehilangan temanmu. Kebetulan aku sedang butuh teman.” Aku tercengang, dia memperkenalkan dirinya. Aku berharap dia tidak akan pernah lagi mencibirku. Aku menjawabnya pelan “Aku, Alena. Tadi sedang ada urusan di kantorku?” Aku bertanya padanya dan dia menaikkan alisnya, bertanya.

“Kantormu? Kau bekerja di Double Fashion? Aku pindahan dari Singapore. Manajer pemasaran yang baru.” Aku kembali terbelalak, kita bekerja dibawah atap gedung yang sama, dia baru. Oke aku akan memperkenalkan diriku. Perangai laki-laki itu sekarang berubah setelah mengetahui aku bekerja satu kantor dengannya.

“Aku desainer muda disana. 1 tahun aku disana. Selamat bekerjasama. Maaf tadi, pertemuan kita sangat buruk.”

“Aku tidak suka hal-hal yang kacau dan berantakan. Aku juga minta maaf. Aku tidak heran desainer berpenampilan sepertimu.” Hatiku sekarang dibikin tersenyum olehnya. Aku berteriak padanya, AKU JATUH CINTA. Jangan katakan aku bodoh, aku hanya berteriak dalam hati. Mulutku diam. Dia sungguh laki-laki yang tampan.

“Aku akan memperbaiki penampilanku jika kau terganggu saat lewat kantor divisimu di kantor nanti.” Dia tersenyum sedangkan aku membeku, lututku sekarang lemas, dia sangat tampan saat tersenyum. Aku serius. Dia menjawab jujur, aku suka. “Panggil saja, Pandu. Aku sedikit tidak suka dengan gaya desainer yang acak-acakan sepertimu. Sepatu bergesper, egh.” Aku menyesal memakai sepatu bergesper hari ini, meskipun aku suka itu, tapi Pandu, ya Pandu tidak suka, jadi aku harus menanggalkannya. Aku melepaskannya saat itu juga dan meraih flat shoes dari dalam tas jinjingku. Mengganti tanpa ijin padanya. Dia terlihat kaget.

“Oh Alena, itu cantik di kakimu.” Aku tersenyum. Sekarang kita benar-benar seperti sepasang teman. Dan itu lucu, 10 menit yang lalu aku menangis didepannya—orang asing, dan sekarang orang asing itu sudah menjadi temanku. Itu ajaib.

Setelah perbincangan panjang itu, kita kembali ke kantor dan pergi dengan kendaraan masing-masing.

“Oh. . I’m in love, oh I’m fallin’ love” Aku bernyanyi, setelah sekian lama aku tidak menyanyikan lagu cinta. Sekarang di meja kerjaku, aku menyanyikannya. Ini ajaib. Aku sedang memandangi sepasang sepatu di kakiku. Aku tersenyum, mengingat kata-kata darinya ‘Oh Alena, itu cantik di kakimu.’ Wajahku bersemu merah. Untung saja ruanganku terpisah dengan yang lain, jadi tidak seorangpun bisa menggangguku sekarang.

Ternyata benar kalau saja jatuh cinta itu ajaib. Akan mengubah perangaimu yang beringas menjadi lemah lembut, berlaku sebaliknya. Bahkan aku mengubah sepatuku sesaat Pandu mengucapkan dia tidak suka dengan sepatu bergesperku.

Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, aku selalu memilih lewat lift sebelah barat—bukan lift sebelah timur yang lebih dekat dengan ruanganku—sengaja agar bisa melihat wajah tampan Pandu, meskipun hanya sekilas. Tapi aku cukup tahu, bahwa aku jatuh cinta padanya. Satu bulan aku bertingkah seperti itu. Aku tak tahu bagaimana mengatakan padanya. Tolong katakan bahwa aku terlihat buruk kali ini, seperti kuda liar yang mencari pawangnya.

Siang ini, aku memutuskan untuk pergi ke kedai kopi kesukaanku. Aku pasrah dan hendak mengakhiri kegilaanku pada Pandu—tapi asal kamu tahu ini sungguh sulit. Aku tidak menolak bahwa jatuh cinta itu indah. Jatuh cinta akan membuatmu merubah gelagat buruk menjadi sebaliknya, dan akan selalu bersikap manis didepan dia yang kamu suka. Jatuh cinta akan membuatmu salah tingkah saat melihat wajahnya, meskipun hanya sekilas. Dan parahnya lagi, jatuh cita telah membuatku hanya memikirkannya, Pandu. Elon Pandu seorang. Aku tidak pernah menyalahkan perasaan ini. Aku sudah mencoret ‘jatuh cinta’ dari daftar kegiatan yang akan kulakukan, karena aku sedang jatuh cinta saat ini.

Aku duduk di tempat yang sama, satu bulan lalu. Selama satu bulan aku selalu datang kesini, duduk ditempat yang sama, terkadang aku duduk dimana bekas Pandu duduk. Bodohnya orang jatuh cinta, padahal kursi itu sudah diduduki ratusan pantat—bukan hanya Pandu. Aku tersenyum. Tapi selama sebulan ini aku tidak melihat Pandu datang, tapi aku mencium parfum Bvlgari Aqva. Yah, yang menggunakan parfum itu bukan hanya Pandu, pikirku jenaka.

Latte macchiato dan 7 iris roti bakar lagi” Aku mendelik saat menyeruput kopiku sekarang, suara itu. Pasti ini mimpi, Pandu disini. Parfumnya! Tidak salah lagi. Jelang beberapa detik, dia sudah duduk didepanku. Bukan! Ini bukan mimpi. Dia memakai kemeja kotak-kotak biru tua bercampur merah dan Jeans berwarna biru gelap, island shoes di kakinya membuat Pandu tampak lebih santai daripada memakai tuxedo dan sepatu mengkilap. Jujur aku suka gayanya yang sekarang. Sedikit serasi dengan kemeja merah muda dengan kerah crew neck biru dan warp around skirt (rok satu pias) warna biru senada yang sedang kukenakan. Tak lupa flat shoes abu-abu yang dikatakan cantik oleh Pandu satu bulan lalu, aku memakai sepatu yang sama—sangat menyedihkan.

“Pandu. . .”

“Apakah kamu puas?” Kamu? Dia sekarang menggunakan kamu, bukan lagi kau? Aku bingung, apa maksudnya. Puas? Aku puas akan apa? Aku tak mendapatkan apa-apa. Hanya saja dua gaunku bulan lalu menjadi gossip terpanas di majalah fashion dua minggu terakhir. Karena aku cukup sibuk hanya untuk memikirkanmu, Pandu.

“Hah? Maksud kamu?” Aku menirunya memakai kamu. Aku kembali bertanya kepadanya, kali ini aku serius bertanya apa maksudnya. Ada apa dengan Pandu? Dia malah asyik memandangiku, aku tersipu. Jangan bilang pipiku memerah? Tidak untuk saat ini, hanya sedikit panas.

“Apakah kamu puas hanya lewat depan divisiku untuk melihat wajahku sekilas?” Deg, aku mendapatkan sekakmat dari Pandu. “Selama satu bulan, kamu datang kesini dan memandang kursi didepanmu. Kamu puas hanya melakukannya sendiri? Apakah kamu tahu, selama satu bulan pula aku selalu mengikutimu, mengamatimu dari jauh. Dan itu menyakitkan, aku tahu apa yang kamu rasakan, Alena.” Aku menggeleng, sungguh air mataku hendak menetes. Kenapa dia melakukan ini.

“Aku hanya mencium Bvlgari Aqva mu, , ,Apakah kamu tahu?” Suaraku bergetar, mataku sudah berkaca-kaca. Sebelum tangisku pecah. Pandu segera duduk disampingku, dia tidak memberikanku sapu tangan. Dia memeluk pundakku, aku terharu.

“Kamu harus mengatakan padaku jika ingin bertemu dan bicara denganku. Kenapa harus sembunyi-sembunyi?” Aku diam dalam pelukannya “Apakah kamu serius ingin berteman denganku dan menemani kesepianku.” Aku menjawab setengah berani setengah takut. Aku menoleh padanya, wajahnya tegang. Dia menggeleng, deg. Jadi dia tidak mau berteman denganku? Aku sungguh buruk sekarang ini.

“Aku tidak mau hanya berteman denganmu. Aku jatuh cinta padamu. Sejak pertama aku melihatmu aku benar-benar benci gaya dan apapun yang ada pada dirimu. Tapi tahukan kamu, Alena, benci dan cinta itu tipis. Aku selalu memikirkanmu. For real!” Jangan tanya! Aku sudah menangis sekarang. Aku mengangguk dalam tangisan. Aku bahagia, sungguh cinta dapat membuat seseorang menangis—karena bahagia.

“Aku mencintaimu. I’m loving you, and always.” Sungguh aku memeluknya-erat-hangat-lama. Aku mencium aroma yang tidak ada duanya, aroma laki-laki—bukan parfum, dicampur dengan aroma kopi yang menyebar di seluruh ruangan, aroma tetesan hujan dari pepohonan di sekitar kedai dan jangan lupakan aroma parfum kesukaanku, Bvlgari Aqva. Sungguh laki-laki ini telah membuatku berubah.

Aku datang kepernikahan Nara—sahabatku, tidak sendiri lagi. Aku menggandeng seorang laki-laki yang mengaku sebagai sahabatku, dia adalah yang aku cintai. Ya, aku sudah belajar banyak untuk mencintai dan aku tahu dia mencintaiku. Aku tersenyum melihat Nara bahagia berjalan di altar mengenakan gaun yang dia minta dariku. Itu sungguh luar biasa. Mengagumkan.

 

Cinta bukan hanya aku dan kamu. Cinta bukan hanya tersenyum dan bahagia, tapi menangis bahagia. Tidak mencintai kelebihannya, tapi menutupi kekurangan masing-masing. Cinta karena harimu kacau hanya untuk memikirkannya. Betapa cinta membuatmu selalu tersenyum, bahkan hanya membayangkannya ada disampingmu. Tapi cinta tak pernah dusta, cinta itu nyata dan ada. Untuk aku, kamu, dan kita. Love will never fails, Love will never lies.

 

@DafaYuvi