Cinta 60 Detik di Surabaya

src=”https://dafayuviberrywine.files.wordpress.com/2013/12/nuliskilat-header.png?w=300″ alt=”#nuliskilat header” width=”300″ height=”112″ class=”alignnone size-medium wp-image-1108″ />

Sore hari, tak berarti merubah kota tua ini untuk tenang dan damai. Masih sama, padat-merayap. Asap juga masih menyusup dan berbaur dengan nafas kota surabaya, menggiurkan kehidupan disini dengan begitu banyak gedung-gedung tinggi dan mall, sepertinya. Namun, tak tega rasanya melihat para pengendara saling beradu klakson motor dan mobil yang berasa saling menghina kenapa tak jalan-jalan, macet. Bising memang. Tapi apalah daya, kota tua ini sungguh memikat para pecinta uang dan harta dunia. Memang menggoda rasa.

Para pekerja kantoran menenteng tas kantor mereka-letih. Lengan baju yang disingsingkan mempertajam keringat yang berkilauan dijejaring kulit. Wajahnya masam, penuh peluh. Berjalan saling cepat menuju pemberhentian kereta yang telah dipadati hilir manusia dengan harap sama. Sampai dirumah cepat, bertemu keluarga, dan istirahat untuk bersiap mengulangi rutinitas yang sama esok-nya. Menyebalkan memang.

Sam, dia menegak air di botolnya bingal. Dia haus, pasti. Pegawai kantoran yang berperawakan model itu sedang menunggu kereta, stasiun gubeng yang sesak dengan pemegang tiket kereta ekonomi.

Dia menoleh, ada kereta datang. Dia melangkah kearah pintu-pintu kereta yang berjajar dan berdecit mencoba menge-rem.

Berdesak-desakan masuk tak mau mengalah. Sam berdiri, menggelantungkan tangannya pada pegangan besi yang berjajar rapi itu. Sudah biasa, hampir setiap hari begitu.

“Terlalu banyak penduduk” celetuknya sebal

Bapak-bapak disebelahnya berdiri hanya menoleh, walaupun berada dalam posisi setuju dengan ucapan Sam barusan.

Dia memandang sekeliling, hampir sama. Para pekerja, laki-laki dan perempuan yang berbaur di dalam kereta kelas ekonomi. Laki-laki yang memakai jas dan sepatu hitam mengkilap, serta perempuan yang memakai kemeja dan rok sebatas lutut. Rata-rata seperti itu.

Ada dia, dia berbeda. Dia memakai kaos lengan panjang dan celana sebetis. Tidaklah cukup feminine, tapi cukup menawan dengan rambut panjang yang digerai dengan sepatu hak tinggi yang menghiasi kakinya. Sam, mengamatinya, gadis itu memiliki mata kecil dan hidung mungil dengan bibir yang segar berwarna merah jambu. Mungkin dia memakai lipbalm, pikir Sam. Dia memang pemerhati wanita.

Gadis itu bergerak, Sam mulai risau. Apakah gadis itu harus secepat itu turun. Ternyata benar, di stasiun berikutnya, gadis itu turun. Dia memandang Sam lekat, sebelum turun. Sam hanya tersenyum, pura-pura tetap cool padahal deg-deg-an tak tertahankan. Hingga akhirnya kereta berhenti dan gadi itu turun.

“Yaaah, dia turun” terdengar gumamannya sebal.

Malam itu, Sam, Samosa Alden, seorang pekerja kantoran yang kepikiran penumpang kereta sampai-sampai susah tidur. Hari pertamanya bertemu dengan gadis itu meninggalkan kesan yang, ehm boleh dibilang jatuh cinta pandangan pertama. Akhirnya jam 11 itu juga, dia memutuskan turun dari kamarnya. Papanya yang sedang menonton TV di ruang keluarga menoleh,

“Mau kemana, Sam?”

“Ngopi, Pa. Bentaran kok, Sam lagi buntu, Pa.” Sam melambaikan tangan ke papanya.

“Hati-hati sam, ndak usah ngebut” Sam tanpa menoleh mengacungkan tangannya tanda ok ke papanya.

Kanan kiri jalanan Surabaya 2 hari menjelang tahun baru sedikit lenggang, namun tidak di jalan Kertajaya Indah, tetap padat merayap. Kemudian Sam menyalakan sin motor matic-nya ke kanan dan putar balik, menuju arah asrama haji dan mengambil jalur kiri dan masuk jalan menuju asrama haji, tak sampai lima belas menit, dia sudah sampai, di kedai kopi-keiko. Saat memasuki kedai kopi-keiko, dapat langsung terasa aroma kopi yang wangi dan menenangkan jiwa-jiwa yang sedang lelah. Dengan temaram lampu yang memantul dari tembok warna coklat muda itu.

Sam, memesan Americano dan duduk di dekat jendela kaca di ruangan yang sudah sepi. Sebentar lagi jam 12 dan kedai kopinya akan tutup. Sam menyesap aroma kopinya dalam sebelum menegaknya habis. Setelah meletakkan cangkirnya di meja, dia melihat seonggok gadis di ujung ruangan dengan rambut terikat rapi. Sedang menunduk, terlihat oleh Sam bahunya serasa bergerak naik turun. Apakah dia menangis, pikir sam. Benar, dia terlihat mengusap air matanya dan merasa diawasai dia menoleh kearah Sam, dia terkejut. ‘Bukankah itu gadis kereta tadi sore? Mengapa dia menangis? Apa yang harus aku lakukan?’ batin Sam sambil meremas note pembayaran kopinya.

Gadis itu bergegas memakai mantelnya dan membayar kopinya. Ternyata gadis itu sudah menghabiskan 5 cangkir machiatto. Namun, bukan dari jumlah cangkir di mejanya, tapi jumlah yang harus dibayar dan didengar oleh Sam dari kursinya. Kemudian gadis itu berjalan gontai keluar dari kedai kopi-keiko. Sam, melihat penggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu. Sam tidak bisa berbuat apa-apa, hingar bingar kota Surabaya terkadang membuat perasaan tak bisa ditahan, mungkin sedih yang dirasakan oleh gadis itu juga.

Itu adalah kedua kali Sam bertemu dengan gadis itu dalam sehari. Sam sepanjang jalan hanya memikirkan apa yang sedang terjadi pada gadis tadi. Apakah dia sedang patah hati. Sam terus bertanya-tanya.

Hari Sabtu. . .

Seharian dia hanya dihabiskannya dengan novel dan komik. Libur kerja benar-benar membuatnya malas. Hingga sore itu, papanya naik ke kamarnya.

“Sam, mama bikin nasi goreng rendang. Cepat turun. Jomblo kok nongkrongnya di kamar aja. Kamu gak pengen malam mingguan entar?” papanya menggoda di ambang pintu,

“”Ah papa, nyindirnya bikin gemes. Iya, bentar lagi aku turun.

Papanya kembali menutup pintu dan turun, menuju meja makan. Sam, menyusul di belakangnya. Dengan kaos oblong kusut abu-abu dan celana selutut terlihat kebesaran. Bisa ditebak dia seharian gak mandi.

“Kamu makan yang banyak, Sam. Biar gak jomblo terus.” Mamanya malah mengajukan pernyataan yang lebih menggemaskan daripada papanya.

“Ma? Makan dan Jomblo itu gak ada hubungannya. Lagian tumben bangen sih Mama sama Papa ribut masalah status percintaanku? Aku masih suka cewek kaliii~ ” jawab Sam ketus dan diikuti cekikikan dari mamanya yang sedang menyendokkan nasi goreng ke piringnya.

Meja makan itu hening sejenak setelah acara makannya selesai. Dan papanya mengawali pembicaraan sore itu.

“Tadi pagi ada berita dari kantor, katanya ada salah satu pegawai baru yang meninggal kecelakaan, kamu hati-hati Sam kalo naik kendaraan.”

“Yaampun, pa. Kasian banget. Mana mau taun baru malah ditinggal.”

“Namanya juga takdir Tuhan. Sekarang kamu bantu mama bawa piring kotornya ke dapur.” Terdengar sam, mendengus. Padahal sedang mellow, mamanya bikin keki urusan piring kotor.

Hari Minggu. . .

Demi apa jam 8 pagi Sam tumben sudah bangun. Mamanya memintanya untuk nganter ke swalayan. Dia menunggu mamanya di dekat kasir dan membaca Koran hari itu, dalam berita utama tercantum “Kecelakaan Maut Jelang Tahun Baru”. Teringat kata-kata papanya saat di meja makan, Sam antusias membacanya. Kecelakaan itu terjadi di jalan Tol panjang menuju arah terminal Bungurasih. 5 penumpang yang salah satunya merupakan pekerja di PT. UFO NEW, dimana itu adalah tempat papanya bekerja. Penyebabnya dikarenakan rem bus yang berisi 37 penumpang itu sedang mengalami rem-blonga Sehingga harus menelan kenyataan pahit, saat diarah berlawanan ada truk besar memuat semen dengan kecepatan sekitar 60 km/jam menghantam bus itu.

“Jadi benar, pegawai baru ditempat papa meninggal karena kecelakaan. Semoga keluarganya diberi ketabahan.” Sam bergumam, beberapa orang yang sedang antre bayar menatapnya yang sedang sibuk dengan perasaan simpatinya. Kemudian mamanya datang.

“Ayo pulang. Kasian yang jomblo. Bahkan lebih asyik baca Koran daripada sms-an sama cewek.”

“Apasih ma, resek banget sama aku.” Sam menyipitkan matanya dan membawakan barang belanjaan mamanya.

Sesampainya dirumah, Sam yang haus membawa belanjaan 2 keranjang berjalan ke kulkas, menegak air dari botol besar itu. Mamanya berdecak melihat tingkah Sam.

“Mana ada cewek yang mau sama kamu, minumnya aja kaya kuli gituh.” seketika Sam tersedak dan menatap mamanya tajam. Kemudian memasukkan botol kedalam kulkas kembali, dan menutupnya keras, hingga terdengan suara -brukk-.

Why are you guys so annoying? Do you know that you making me frustrated.” Mamanya sangat mengerti apabila Samosa Alden sudah berbicara menggunakan bahasa inggris adalah saat dia benar-benar sebal, marah, dan urusan pekerjaan saja. Segeralah mamanya meminta maaf, meskipun masih sedikit bercanda.

“Maafkan mama, sayang. My little single man-nya mama gak boleh marah.”

Up to You. Sam pergi dulu, ma. Main.”

Sam pergi dengan segala amarahnya. Bukan, dia tidak marah, hanya agak-sedikit sebal. Dia naik motor matic-nya entah kemana. Hingga dia melihat seorang yang sedikit dikenalinya, dia menghentikan motornya didepan Tunjungan Plaza, Surabaya. Pusat perbelanjaan yang penuh sesak dengan lautan manusia. Terlihat dia sedang menelpon seseorang, wajahnya terlihat gusar dan menyesakkan seperti jumat malam, 28 desember 2013 di kedai kopi-keiko. Sam mengamatinya dari tepi jalan, sementara gadis itu berada di mana banyak berjajar taksi yang sudah dipesan pengunjung. Tak lama salah satu taksi berwarna biru datang. Mungkin tadi, gadis itu menelpon taksi, pikir Sam. Demi apapun harusnya Sam tidak usah mengikuti taksi biru bernomor polisi L 4352 SP yang ditumpangi oleh Gadis yang sama sekali tidak dikenalnya, tapi sedikit mengusik hari-harinya belakangan ini. Tapi, Sam sudah mengikutinya sejak sepuluh menit lalu.

Taksi itu berhenti di depan gang kecil, gadis itu masuk kedalam. Tidak mungkin Sam mengikutinya, bahkan dia bisa membaca ada plang “Mudhuno teko motormu”, yang artinya “Turun dari motormu” dimana tidak diperkenankan pengendara menyalakan mesin motornya di kebanyakan gang kecil di Surabaya. Namun, tak cukup sampai disitu, Sam mulai bertanya pada salah satu ibu-ibu paruh baya yang punya toko beras dan air gallon.

“Ibu, permisi.”

“Iya nak?”

“Gadis yang barusan masuk gang situ siapa ya kalau boleh tahu?”

“Eh, jadi kamu gak tahu? Dia itu Riri. Tunangannya baru saja meninggal, kecelakaan, dua hari yang lalu. Padahal mereka mau nikah februari, tahun depan. Jadi, wajahnya menjadi begitu dingin. Anak muda ini siapa?” Benar saja ibu-ibu itu akan bertanya siapa dia sok-sok-an mengurusi urusan gadis patah hati yang ditinggal mati tunangannya. Sam buru-buru merubah mukanya seakan dia hanya sekedar ingin tahu.

“Kecelakaan?”. . . jangan-jangan salah satu pegawai baru di PT. UFO NEW itu, pikir Sam. “Saya hanya gak sengaja lewat, bu. Makasih. Semoga dia diberi kekuatan. Saya pamit” Ibu itu mengangguk tanpa rasa curiga, kemudian melihat Sam dari atas sampai bawah, memastikan bahwa dia bukan penculik balita dan dijadikan pengamen jalanan. Bukan, Ibu paruh baya itu kemudian tersenyum dan mengangguk.

Sam kembali memusingkan urusan gadis itu, namanya Riri.

“Riri, apa benar tunangannya itu?…” Sam berguman sendiri diatas motornya yang berebut ruang di jalanan yang lenggang itu, hari minggu. Kota Surabaya memang lenggang hari minggu.

Malam harinya, dia memutuskan untuk kembali ke kedai kopi-keiko. Sam berharap gadis itu-Riri datang juga. Seperti-halnya kapan hari itu. Tepat pukul 11, gadis itu datang dengan mata yang sedikit sembab. Dengan baju panjang warna coklat gelap, dengan celana warna hitam pekat. Dia memakai sandal malam itu. Rambutnya kembali tergerai namun terlihat pendek. Mungkin dia memotong rambutnya, pikir Sam. Tak disangka tak di nyana, gadis itu duduk didepan Sam. Mungkin Sam bisa memastikan apakah dia benar-benar tunangan dari seorang pegawai bari di perusahaan tempat papanya bekerja dan meninggal pada hari jumat, 27 desember 2013. Tepat saat malam harinya dia datang ke kedai kopi-keiko dan menangis sesenggukan dan Sam mendapatinya menangis.

Gadis itu memesan Machiato-lagi. Dengan terus menunduk dan hanya menatap kosong cincin yang dipakainya. Sam mengamatinya, sedih dirasakannya. Air mata gadis itu mengalir tak tertahankan.

“Hai, kamu tidak apa-apa?” Tanya Sam khawatir

“Kenapa kamu selau mengikutiku? Aku sudah ditinggal mati tunanganku. Huhuhu” Sam memandang sekeliling. Sam bingung harus mengatakan apa.

“Maafkan aku jika kamu merasa tidak nyaman. Aku hanya merasa penasaran mengapa kamu menangis? Aku meminta maaf dan turut berduka cita.”

“Apakah harus mati juga? Aku tidak tahu kenapa Tuhan begitu tidak adil?”

“Hei, kenapa kamu berkata seperti itu? Tuhan itu sedang mengujimu. Apakah kamu tahu Tuhan tidak akan menguji kita diluar batas yang kita punya.”

Gadis itu terdiam, mencoba mencerna kata-kata Sam. Darimana dia tahu kata-kata semacam itu? Mungkin dia menganalogikannya dengan kasus jomblo yang dialaminya selama bertahun-tahun, yang bukan berarti Tuhan tidak memberikannya jodoh, namun, jodohnya belum datang. Dan dia tahu, jodoh pasti bertemu, suatu saat nanti.

“Apakah tunanganmu pegawai baru di PT. UFO NEW?” Gadis itu hanya memandang dan kemudian mengangguk. Hingga larut malam pembicaraan mereka berlangsung panjang.

Sam sekarang sudah tahu, Gadis itu adalah gadis patah hati yang harusnya akan berlibur ke bali bersama tunangannya di malam tahun baru, kalau saja kecelakaan maut hari jum’at itu tidak menghilangkan nyawanya. Sam kembali mengingat isi Koran yang dibacanya tempo hari. Koran hari itu, dalam berita utama tercantum “Kecelakaan Maut Jelang Tahun Baru”. Teringat kata-kata papanya saat di meja makan, Sam antusias membacanya. Kecelakaan itu terjadi di jalan Tol panjang menuju arah terminal Bungurasih. 5 penumpang yang salah satunya merupakan pekerja di PT. UFO NEW, dimana itu adalah tempat papanya bekerja. Penyebabnya dikarenakan rem bus yang berisi 37 penumpang itu sedang mengalami rem-blonga Sehingga harus menelan kenyataan pahit, saat diarah berlawanan ada truk besar memuat semen dengan kecepatan sekitar 60 km/jam menghantam bus itu.

Hubungan yang aneh itu semakin tak berujung jelas, Sam sejak malam itu sering mengirimkan SMS pada Riri. Dia hanya mengucapkan kata-kata penyemangat agar dia melewati hari dengan sabar dan tetap kuat. Mereka juga membuat janji akan merayakan malam tahun baru bersama. Membuat hari baru, dengan doa-doa baru yang baik. Resolusi untuk mengobati patah hatinya-Riri.

Hari Selasa, 31 desember 2013. . .

Sam janji akan menjemput Riri dirumahnya. Sam sudah gak sabar nunggu nanti malam. Bahkan seharian dia sibuk memilah setelan yang dipakainya dipergantian tahun dengan Riri. Gadis yang telah membuyarkan hidupnya, hampir semingguan. Sam juga menyiapkan kado kecil yang dibungkusnya dalam kotak berwarna coklat tua itu. Bukan, dia hanya memberi kado tahun baru. Riri hanya menganggap hubungan mereka sebagai pertemanan, dimana Sam yang memberinya semangat untuk selalu tegar menghadapi hari baru, meskipun separuh hatinya sudah tak bersamanya.

Sam seharian tak melepaskan senyuman bahagianya. Benar-benar sosok laki-laki yang sedang jatuh cinta. Bagaimana bisa dia memilih untuk tidak masuk kerja hanya untuk membeli kado untuk Riri. Sam was in love since their first sight in train. Cinta memang terkadang tidak bisa dijelaskan alasannya. Tapi memang Sam mencintainya, bagaimana dia tidak bisa sehari-pun melupakan sosok riri. Tidak bisa satu jam-pun tidakmengirimkan SMS pada riri. Apakah bisa disebut benci? konyol! Itu cinta. Namun, Sam tahu bahwa patah hati Riri belum sembuh, sehingga dia butuh waktu.

Pukul 11. 30 WIB, Sam berangkat menjemput Riri. Dengan mobil papanya, salah satu alasannya karena hari-hari ini selalu hujan. Bagaimana bisa dia membiarkan gadis yang dicintainya kehujanan?.

Riri sudah menunggu dengan kemeja berbahan syifon warna merah maroon dan rok hitam selutut dengan tas jinjing yang berukuran 25cmX25cm. Terlihat sangat serasi dengan rambutnya yang terurai indah dan sepatu flat yang sangat cocok dikakinya. Saat Sam tiba, Riri sudah menunggu didepan gang, segera dia membukakan pintu buat riri.

Sam mengajaknya kepantai yang ada di Surabaya dan sudah ramai dengan pengunjung yang ingin merayakan tahun baru disana. Mereka memarkirkan mobil agak sedikit jauh. Sam menggandeng tangan Riri, meskupun awalnya ragu, tapi lama-kelamaan biasa.

Saat petasan tak henti-hentinya berbunyi, Riri tiba-tiba memeluknya.

“Terimakasih sudah peduli, dan sayang padaku. Aku tahu kamu jatuh cinta padaku. Aku juga cinta padamu. Tapi kamu pasti tahu, aku masih tidak bisa melupakan kekasihku” Sam memandang langit yang penuh dengan warna-warni kembang api yang terus meletup-letup. “Aku, , ,” suara riri agak bergetar. “Hanya ingin tersenyum lagi, dank au berhasil melakukan itu, terimakasih Sam. Kau baik, aku tahu itu. Kau tampan, dari perawakan tinggi besarmu. Aku tahu kau penyayang, dari caramu memperhatikan dan memperlakukan perempuan patah hati spertiku. Aku. . . ingin eh mengucapkan terimakasih. Sela. .mat” kalimatnya patah-patah dan bergetar “Tahun. . ba. .bar. .ru” Riri pingsan.

Demi apapun juga Sam teriak-teriak seperti orang gila malam itu, melihat riri yang memeluknya sedang menusukkan pisau pada dirinya sendiri dan darah sudah berlumuran di baju merah maroon yang dikenakannya malam itu. Terlihat gadis itu sudah tidak bernafas lagi. Dia buru-buru membawanya kerumah sakit. Matanya tak tahan membendung air mata. Yang sedih lagi, ternyata dia tinggal sendiri tanpa sanak saudara, tanpa orang tua. Sebatangkara. Dokter keluar dari ruang UGD. Menggeleng.

Hari itu, malam itu, malam pergantian tahun baru, diganti dengan malam persimpaham darah dari riri dipantai yang ramai orang, saat mengetahui ada yang melakukan bunuh diri, para pengunjung saling berteriak dan menjauh dari lokasi. Yang lebih sakit lagi adalah Sam yang sedang benar-benar mencintai seorang gadis ternyata gadis itu mengakhiri hidupnya di pelukannya. Tak disangka. Sam hanya menatap nanar  bingkisan dalam kotak berwarna coklat tua yang diambilnya dalam saku celana dan memandangnya semakin sedih.

Satu menit, mereka larut dalam tahun baru di kota Surabaya yang penuh dengan hingar bingar. Satu menit Sam tahu pernyataan yang diungkapkan oleh Riri bahwa dia juga mencintai Sam. Bahkan satu menit pula mereka berpelukan dan merayakan tahun baru. Satu menit pula, pisau 15cm yang dibawanya dalam tas ukuran 25cm itu menancap hebat ditubuhnya. Meski hanya satu menit, tahun baru ini tidak akan dilupakan oleh Samosa Alden, seumur hidupnya.

Cinta tidak hanya milikku dan milikmu. Cinta tidak hanya aku dan kamu. Cinta tidak hanya tentang ciuman. Cinta tidak hanya tentang pelukan. Tapi, cinta juga berbicara tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Jangan salah kalau cinta itu rela meninggalkan demi kebahagiaan orang yang dicintai. Begitupun cinta itu akan ditinggalkan apabila dia tidak merasa bahagia dan melelahkan. Cinta ada bukan untuk membodohi, tapi mereka yang mengagungkan cinta-lah yang melakukan hal-hal bodoh untuk mempertahankan cinta. Cinta adalah mengerti saat Tuhan memberi kurang dan lebih satu sama lain. Cinta adalah saling memberi, bukan saling menuntut. Cinta akan selalu ada bagi mereka yang dapat mengartikan cinta dan tulus kepadanya.

Wahai pemilik kehidupan, datangkan cinta pada mereka yang mencintaimu. Mengagungkan nama-Mu karena cinta padamu. Bukan karena cinta yang membodohi. Pergantian tahun bukan hanya perayaan bikin hingar bingar di muka bumi, tapi lihatlah masih banyak hati terluka yang tidak sanggup menyentuh baju baru maupun makan yang layak, tapi mereka membakar-bakar benda yang membuat bising tanpa ampun.

Sam menatap langit di malam pertama 2014, begitu banyak bintang. Dia berharap Riri bahagia dalam pelukan Tuhan dan diberikan kedamaian. Meskipun hatinya tidak terima, tapi dia tahu. Riri pergi karena sudah memilihkan jodoh yang lain buatnya, bukan Riri. Yang lebih lagi, dia merasakan apa yang dirasakan Riri. Meskipun dia tahu, Riri pasti merasakan yang lebih sakit dari apa yang dia rasakan sekarang. Karena kota Surabaya sudah memberinya cinta, memberinya kehidupan, senyuman dan beribu kebahagiaan.

Surabaya, I’m into You, in 60 seconds

Langit Surabaya kembali menjadi gelap dengan hilangnya cahaya bulan yang ditutupi oleh mendung yang datang tak diundang. Yang kemudian tak bisa ditahan, hujan turun hingga esok hari. Sejuk. Bahkan mata terbuka dengan angin baru yang membahagiakan. Sam menjadi lebih mengerti sisi lain daripada kehidupan yang Tuhan kirimkan. Manis, Pahit, dan lain-lain. Seperti rasa kopi di kedai-keiko.